Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label History. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2016


“Ketika Ayatullah Khomeini mengetahui operasi khusus Amerika yang akan dilancarkan terhadap Iran dengan menggunakan perangkat perang canggih Amerika, Ayatullah Khomeini pun membaca Surah Al-Fiil dan memohon pertolongan Yang Maha Kuasa.....Ketika operasi khusus rahasia Amerika itu dilaksanakan, Hercules dan helicopter-helicopter canggih Amerika rontok dan hancur di Gurun Tabas, Iran”.

Tanggal 25 April 1980 merupakan hari yang sungguh memalukan bagi Amerika Serikat, namun merupakan hari yang ajaib bagi bangsa Iran, karena hari itu merupakan hari kemenangan rakyat Iran yang baru memenangkan revolusi, yang kemudian berusaha kembali diserang Amerika. Pada hari itulah, langit memberikan pelajaran penuh hikmah kepada Washington dan Pentagon, Amerika Serikat.

Kala itu, pemerintah Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Jimmy Carter, memerintahkan militer Amerika Serikat untuk menyerang Iran dengan operasi khusus yang langsung ditangani CIA dan Pentagon. Serangan (operasi khusus) ini dilakukan di pertengahan malam oleh pasukan elit Amerika Serikat yang diperlengkapi dengan berbagai persenjataan modern dengan didukung pesawat Hercules C-130 dan sejumlah helikopter tempur canggih mereka.

Ketika itu, sekitar 90 pasukan komando yang ikut dalam operasi Eagle Claw ditugaskan untuk membebaskan para mata-mata Amerika Serikat yang ditahan di Teheran, Iran.

Mereka yang ditahan itu adalah para pegawai kedutaan Amerika Serikat di Teheran yang melakukan tugas (bekerja) rangkap sebagai mata-mata dan melakukan konspirasi anti revolusi Iran. Hanya saja, kelompok mahasiswa yang menamakan dirinya sebagai Daneshjuyan-e Peiruvan-e Khatt-e Emam (Mahasiswa Pendukung Garis Imam Khomeini) pada tanggal 4 November 1979 menduduki kedutaan Amerika Serikat yang telah menjadi sarang mata-mata Amerika Serikat tersebut.

Fakta-fakta dari kedutaan Amerika Serikat di Teheran itu dengan baik menunjukkan bahwa tempat tersebut telah lama menjadi pusat operasi intelijen guna menumbangkan revolusi Islam Iran yang digerakkan oleh para pemimpin dan ummat Islam Syi’ah.

Sementara itu, sebelum melakukan operasi khusus rahasia mereka, pasukan Amerika Serikat berbulan-bulan melakukan latihan keras guna membebaskan para agen Amerika Serikat yang ditahan di Teheran. Latihan pertama mereka dilakukan di Arizona dan setelah itu dilaksanakan di Mesir yang kondisi geografinya punya banyak kesamaan dengan daerah Tabas, Iran.

Dengan memperhatikan seriusnya latihan yang mereka lakukan dan persenjataan yang dimiliki oleh pasukan elit Amerika Serikat tersebut, mereka mulai melakukan aksi dan operasinya dengan kepercayaan diri penuh. Ditambah lagi dengan anasir-anasir anti revolusi di Iran sendiri yang sejak awal telah menyatakan kesiapannya untuk bekerjasama dalam operasi Eagle Claw yang dilancarkan atas keterlibatan langsung CIA dan Pentagon tersebut.

Naas bagi pasukuan khusus Amerika Serikat tersebut, dalam perjalanan menuju gurun Tabas di timur Iran, dua helikopter mengalami kerusakan teknis, meski operasi tetap dilanjutkan. Sejumlah helikopter dan pesawat mendarat di tempat yang telah ditentukan dan siap melakukan tahapan operasi berikutnya, bergerak menuju Teheran, ibukota Iran.

Tetapi aneh tapi nyata dan sungguh terjadi di luar dugaan mereka, Tabas menciptakan sebuah keajaiban. Kali ini kehendak Allah kembali menggagalkan kecerdikan para agresor. Saat tiba di sana, satu lagi dari helikopter Amerika mengalami kerusakan teknis yang berujung pada terhentinya operasi ini. Karena operasi rahasia ini membutuhkan sedikitnya enam helikopter, Presiden Jimmy Carter memutuskan untuk menghentikan operasi Eagle Claw dan memerintahkan agar semua pesawat dan helikopter segera kembali.

Dan saat Jimmy Carter tengah berpikir mengenai kegagalan serangan Amerika Serikat ke Iran itu, tiba-tiba datang berita yang membuatnya semakin cemas dan keheranan. Pesawat dan helikopter Amerika yang akan tinggal landas dari gurun Tabas malah saling bertabrakan, terhempas oleh badai pasir yang tiba-tiba muncul tanpa diduga sebelumnya, datang begitu saja tanpa sempat diantisipasi sedikit pun. Ledakan dahsyat pun terjadi dan delapan komando Amerika tewas, sementara mereka yang masih selamat dengan lari terbirit-birit dan ketakutan meninggalkan gurun Tabas dengan pesawat.

Zbigniew Brzezinski, Penasihat Keamanan Nasional Jimmy Carter sebagai pendukung utama operasi ini di Gedung Putih saat melihat reaksi Jimmy Carter setelah mendengar berita itu mengatakan, "Saat mendengar berita itu, Carter menekuk tubuhnya seperti ular yang terluka dan dari wajahnya tampak khawatir."

Di sinilah kehendak Allah kembali menundukkan keinginan kekuatan-kekuatan sombong dan membuat mereka mencicipi pahitnya kegagalan dengan segala perlengkapan modern yang dimiliki.

Imam Khomeini ra menyebut agresi Amerika ke Iran itu sebagai kejahatan dan pelanggaran hukum internasional. Beliau berkata, "Mereka tiba di Tabas dan berpikir mampu menurunkan pasukannya. Dengan alasan ingin membebaskan para tawanan, mereka ingin menghancurkan Iran. Namun Allah swt mengalahkan mereka hanya dengan mengirimkan debu dan angin."

Beliau menilai tawakkal kepada Allah dan keyakinan akan bantuan gaib (dengan doa) merupakan senjata agung yang tidak mampu dipahami oleh negara-negara Barat. “Doa adalah senjatanya orang-orang mukmin”.

Jumat, 04 Maret 2016


Oleh : Sulaiman Djaya

BIZANTIUM TIMUR (BANGSA RUM atau RUSIA kini) yang merujuk kepada Ummat Nashrani (Kristen) Ortodoks, ummatnya Buhaira (Kristen Ortodoks Suriah) yang mengakui nubuwwah Muhammad saw, ketika Muhammad saw mengijinkan Buhaira untuk melihat tanda nubuwwah di punggung Muhammad saw yakni ketika Muhammad saw ikut kafilahnya Abu Thalib (ayahnya Imam Ali) ke Bostra (Suriah), dan Al-Qur’an menyebutnya sebagai Bangsa & Kaum yang rendah-hati yang dapat bekerjasama dengan kaum Muslim.....Sayangnya, Iran-lah yang terlebih dulu sadar identitas Bangsa Rum ini  Sementara negara NATO Arab (Rezim Saud dkk) kembali menjadi bangsa Jahiliyyah dan minus secara intelektual dan tekhnologi

FEDERASI RUSIA & ROMAWI TIMUR

‘Telah dikalahkan Bangsa Rum (Bizantium) di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan kembali menang’ (Al-Qur’an Surah Ar-Rum Ayat 2-3).

Di abad ke-15, tepatnya di tahun 1450-an, Romawi Timur (Bizantium - Imperium Kristen Orthodox) yang beribukota di Konstantinopel (Istanbul) dikalahkan oleh Imperium Turki yang bekerjasama dengan Imperium Ingris alias Zionist (negeri terdekat mereka), dan setelah kekalahan itu, sisa kekuatan (orang-orang penting Bizantium) pun menetapkan Moskow sebagai ibukota baru mereka.

Demikianlah kemudian lahir Kekaisaran Rusia sebagai pewaris Bizantium (Romawi Timur/Bangsa Rum). Disusul kemudian oleh Komunisme Soviet (yang akhirnya runtuh), dan akhirnya saat ini, berdirilah Federasi Rusia (Kristen Orthodox) dengan Vladimir Putin sebagai pemimpinnya. Dan Al-Qur’an menekankan identitas ‘Kristen Orthodox’ secara khusus ini sebagai Bangsa Rum.

Minggu, 14 Februari 2016



Cirebon adalah kota di tepi pantai utara Jawa bagian barat. Tome Pires dalam kunjungannya ke Cirebon pada tahun 1513 Masehi mencatat bahwa Cirebon adalah kota yang memiliki pelabuhan yang mutakhir. Kemudahan akses menuju Cirebon dari wilayah laut, mungkin menjadi salah satu sebab mengapa kota ini menjadi tempat awal bersemainya ajaran Islam dan menjadi jembatan bagi tersebarnya ajaran Islam ke wilayah pedalaman Jawa Barat. Salah satu watak dari penyebaran Islam di Nusantara adalah menguatnya keberadaan figur-figur tokoh yang mengarah pada terbentuknya komunitas-komunitas, yang kemudian disempurnakan dengan berdirinya lembaga kesultanan.Menurut penelitian Ahmad Mansur Suryanegara, para penyebar agama Islam di Nusantara telah berhasil membangun kekuasaan Islam dengan mendirikan sekitar 40 kesultanan Islam yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Cirebon (Irianto, 2012:2-3).

Perintis kesultanan Cirebon adalah Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dan adiknya, Nyimas Ratu Rarasantang. Atas perintah guru mereka, Syekh Nurjati, mereka pergi ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Di Mekah, Nyimas Ratu Rarasantang yang setelah berhaji diberi gelar Hajjah Syarifah Mudaim, dinikahi oleh Raja Mesir keturunan Bani Hashim, bernama Syarif Abdullah (bergelar Sultan Mahmud). Dari pernikahan ini, lahirlah putra bernama Syarif Hidayatullah pada tahun 1448 M. Syarif Hidayatullah dibesarkan di Mesir, namun kemudian menuntut ilmu-ilmu agama dan tasawuf di Mekah dan Baghdad. Setelah itu, dia memilih pergi ke Cirebon untuk mensyiarkan ajaran Islam di tanah air ibunya.

Syarif Hidayatullah kemudian berdakwah di Jawa dan diberi gelar Sunan Gunung Jati. Keilmuan dan kewaliannya sedemikian cemerlang, sehingga akhirnya Sunan Gunung Jati diserahi tampuk kepemimpinan kesultanan Cirebon dengan helar Susuhunan Jati. Di bawah kepemimpinannya, Cirebon menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Sebagaimana umumnya kerajaan atau negara, Cirebon memiliki sebuah bendera kenegaraan, yang disebut Bendera Macan Ali. Bendera ini pernah dibawa dalam medan perang di Sunda Kelapa. Saat itu, pasukan Cirebon yang dipimpin Falatehan (menantu Sunan Gunung Jati) bersama pasukan Kesultanan Demak dan Banten, bahu-membahu mengusir Portugis yang hendak menguasai Sunda Kelapa (Irianto, 2012:3-4).

Saat ini, Bendera Macan Ali kuno disimpan di Museum Tekstil Jakarta, namun yang ditampilkan untuk publik adalah bendera tiruannya. Bendera Macan Ali dibuat dengan teknik batik tulis dan bertanda tahun 1776. Bendera ini menyimpan jejak sejarah yang sangat kaya, sehingga perlu dipelajari dengan seksama oleh bangsa Indonesia, khususnya generasi muda. Atas dasar itulah, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Balai Pengelolaan Museum Negeri Sri Baduga, pada tanggal 11 September 2013 lalu mengadakan Seminar Bedah Naskah Bendera Kesultanan Cirebon.

Dalam seminar ini, hadir tiga pakar naskah kuno, Prof.DR. H.A. Sobana Harjasaputra, Drs Tawalinuddin Haris, MS, dan drh. Bambang Irianto, B.A. Dalam paparannya, Prof. Sobana menyatakan bahwa bendera Macan Ali sudah cukup dikenal oleh masyarakat Cirebon. Namun, bagaimana asal-usul dan penggunaan bendera itu, belum terungkap jelas. Oleh karenanya, yang bisa dilakukan oleh peneliti adalah memaknai berbagai tulisan dan simbol yang ada di bendera tersebut dan mengaitkannya dengan data-data yang tersedia mengenai sejarah Kesultanan Cirebon. Bendera Kesultanan Cirebon ini berbentuk segi panjang bersudut lima berujung lancip, seperti tanda penunjuk arah. Warna dasar bendera itu adalah biru kehitaman. Di bagian tengah bendera terdapat gambar pedang cagak (pedang bermata dua); gambar pedang ini terinspirasi dari pedang Dzulfiqar yang dihadiahkan Rasulullah kepada Sayyidina Ali.

Selain itu, ada kaligrafi berbentuk ?Macan Ali' yang berjumlah tiga buah, dan di sekelilingnya dipenuhi tulisan berhuruf Arab berupa kalimat-kalimat dari Al Quran. Pada sisi kanan adalah kalimat basmalah, pada sisi atas adalah Surah Al Ikhlas, pada sisi bawah Surah Al An'am ayat 103, yang berarti ?Dia tidak dapat dicapai oleh pengelihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang keliahatan, dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui'. Gambar pedang cagak sendiri melambangkan huruf lam-alif, yaitu huruf pertama dari kalimah syahadat. Menurut Prof Sobana, dituliskannya ayat-ayat Al Quran dalam bendera itu menunjukkan bahwa bendera itu dibuat seiring dnegan penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Diduga kuat, ayat-ayat itulah yang banyak digunakan para pendakwah Islam masa itu dalam mengajarkan ketauhidan dan keberserahdirian kepada Allah SWT.

Sementara itu, Bambang Irianto, yang juga penulis buku Bendera Cirebon, Ajaran Kesempurnaan Hidup (Terbitan Museum Tekstil Jakarta, 2012) memaparkan berbagai makna tasawuf dari bendera Macan Ali ini, dengan berlandaskan hasil penelitiannya terhadap naskah-naskah kuno Cirebon. Antara lain, bentuk bendera yang berbentuk penunjuk arah, melambangkan petunjuk hidup di dunia. Bingkai bendera yang berwarna kuning menunjukkan upaya mencapai kebahagiaan dan cita-cita yang tinggi. Kalimat Basmalah menunjukkan adanya tekad kuat dalam memulai segala sesuatu. Surah Al Ikhlas menunjukkan keikhlasan rububiyah sebagai landasan untuk melakukan keikhlasan amaliah. Surah Al Anam:103 menunjukkan bahwa manusia harus selalu berbuat benar dan sabar karena selalu dimonitor oleh Allah SWT.

Menurut Irianto, berdasarkan hasil penelusurannya di naskah milik Kraton Keprabonan, pedang cagak disebut juga sebagai pedang Dzulfaqor dan Dzulfikar. Dzulfaqor memiliki makna ?yang mempunyai harapan', sedangkan Dzulfikar bermakna ?yang mempunyai pikiran. Maksudnya adalah setiap amal dan perbuatan hendaknya selalu direncanaka dengan pemikiran berganda (berulang-ulang). Gambar macan besar yang berada di ujung pedang melambangkan pemimpin besar yang memandu rakyatnya dengan kalimat syahadat, karena pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, atas kepemimpinannya. Letak kaligrafi berbentuk macan itu berada persis di depan pedang cagak menandai bahwa seorang pemimpin harus sangat berhati-hati karena bila tidak, dirinya dan bangsanya akan mudah diserang oleh musuh.

Pernyataan menarik muncul dari Tawalinuddin Haris. Dia menyebut bahwa nama bendera Macan Ali sama sekali tidak ada hubungannya dengan Ali Bin Abi Thalib. Menurutnya, kata ?Ali' bermakna ?yang tinggi/luhur', bukan mengacu pada Imam Ali. Namun kemudian salah satu peserta seminar mengkritisi pendapat ini dengan menyebut bahwa dalam kultur Cirebon dikenal tarekat-tarekat yang di dalam ritual-ritual mereka disebut-sebut nama Sayyidina Ali. Selain itu, dalam kisah-kisah sastra Sunda kuno juga disebut-sebut nama Sayyidina Ali. Ditambah lagi, ayat-ayat yang ditulis dalam bendera itu adalah ayat-ayat yang sufistik dan biasa dilafazkan dalam ritual tarekat-tarekat di Cirebon. Pernyataan ini disetujui oleh Drh. Bambang Irianto yang asli Cirebon dan ternyata juga pengikut tarekat Sattariah. Menurutnya, memang banyak ilmu-ilmu sufistik yang diajarkan dalam tarekat itu yang dinisbahkan kepada Sayyidina Ali.

Meskipun begitu, dalam makalahnya, Haris juga menyebutkan bahwa kaligrafi berbentuk macan itu kemungkinan merupakan adaptasi pengaruh budaya Persia. Di Persia, kalimat-kalimat yang mengacu pada pengagungan Sayyidina Ali dibentuk dalam wujud singa, sedangkan dalam kesenian Cirebon, kaligrafi kalimat syahadat dibentuk membentuk figur macan. Dasar pemikiran Haris adalah bahwa masuknya Islam ke Indonesia memang tidak langsung dari Arab melainkan melalui Iran atau India. Dalam kultur Cirebon, kaligrafi Macan Ali mendapat penghormatan yang tinggi dan digantung di masjid-masjid.[IRIB Indonesia]

Jumat, 12 Februari 2016



Jejak Karbala di Tanah Jawa

Oleh: Poetra Kasunanan

Jejak Karbala di Tanah Jawa
Orang bertanya kepada ketua Mahkamah Syar'iyah Agung Ja'fariyah di Beirut, Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah, yang merupakan tokoh penting dalam mazhab Syi'ah. Mereka menanyakan mengapa hanya peristiwa Karbala yang diperingati secara khusus untuk mengenang Imam Husain saja? Mengapa tidak memperingati kakeknya Muhammad atau ayahnya Ali? Apakah Husain itu lebih penting daripada kakeknya dan ayahnya itu?

Syeikh Muhammad Jawad Mughniyah memberikan jawaban yang dimuat panjang lebar dalam majalah Risalah Al-Islam Juli tahun 1959. Artikel yang berjudul "Syi'ah dan Hari Asyura" itu menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya menurut paham Syi'ah. Orang-orang Syi'ah tidak melebihkan seorang juapun daripada Rasulullah. Mereka menganggap Nabi Muhammad adalah sebaik-baik makhluk Tuhan dengan tidak ada kecualinya. Sesudah Nabi Muhammad tidak ada yang lebih mulia daripada Ali bin Abi Thalib.

Ali bin Abi Thalib itu pernah membanggakan dirinya dengan berkata, "Aku adalah seorang tukang tambal sepatu Rasulullah". Memang Syi'ah Imamiyah menganggap bahwa Muhammad Saw itu tidak ada yang menyainginya dalam keagungan, malaikatpun tidak, bahkan rasul-rasul lainpun tidak. Bahwa Ali bin Abi Thalib hanyalah khalifah yang berhak sesudah ia wafat, dan Ali bin Abi Thalib adalah keluarga dan sahabatnya yang terbaik.

Adapun penghormatan terhadap Imam Husain pada tiap-tiap tahun selama sepuluh hari berturut-turut di Karbala, yang terkenal dengan Asyura, tidak lain maksudnya untuk mempertahankan dan mengabadikan pendirian itu serta melaksanakannya dalam bentuk tindakan yang kelihatan. (Abubakar Aceh, Syi'ah Rasionalisme dalam Islam, hal 80)

Sesudah dibantai dengan jenis kekejaman yang sukar dicari tandingannya dalam peradaban umat manusia, penggalan kepala Sayidina Husein, putra Fatimah, putri Muhammad Rasulullah SAW, diarak, diseret dengan kuda sampai sejauh 1.300 kilometer. Wallahu 'a'lam. Ada yang bilang ke Syria, tetapi pasti pembantaian sesama Muslim itu terjadi di Karbala. Orang yang mencintai beliau bisakah menangis hanya dengan mengucurkan air mata dan bukan darah?

Jutaan pencintanya memukul-mukul dada mereka agar terasa derita itu hingga ke jantung dan menggelegak ke lubuk jiwa. Ribuan lainnya membawa cambuk besi atau apa saja yang bisa melukai badan mereka agar kucuran darah itu membuat mereka tidak merasa jadi siapa pun kecuali Imam Husain sendiri. Orang yang mencintai melarutkan eksistensinya, melebur, hilang dirinya, dirinya sirna, menjadi orang yang dicintainya. Keperihan maut Husain itulah yang menjadi sumber kebesaran jemaah Syiah di dunia.

Duka yang mendalam atas apa yang dialami cucu Nabi SAW itulah yang membuat kaum Syi'ah menyerahkan hatinya dengan sangat penuh perasaan kepada komitmen ahlulbait, keluarga Nabi. ( Emha Ainun Nadjib, Jejak Tinju Pak Kyai, hal. 124)

Di Tanah Jawa, Syekh Siti Jenar merupakan sosok yang mengambil semangat Al-Husain dalam usaha melakukan dakwah bil hikmah. Dengan membawa tanah Karbala yang dia peroleh dari mertuanya di Baghdad, dia membabat alas Jawa dan melakukan ritual Bhumisoda.

Siti Jenar memiliki semangat Al-Husain dan pengikut setianya yang menyucikan tanah Nainawa dari unsur kemunafikan penduduk di sekitar Nainawa (Neniveh) dengan darah syahadahnya. Bhumisoda adalah penumbalan tanah Jawa dengan tanah Karbala untuk menetralisir tanah Jawa dari unsur negatif para pengikut Bhairawatantra sebagai penghuni sebelumnya.

Dari aspek sosial, Siti Jenar membuka tanah baru dengan nama-nama sesuai dengan kultur tanahnya, dari Lemah Abang, Tanah Abang, Sitijenar, Kajenar, Sitibrit, dan lain-lain (kita bisa menemukan nama-nama daerah itu saat melintasi pantai utara dan pedalaman Jawa).

Lemah Abang adalah simbol kemerdekaan, kebebasan, keadilan dan kesetaraan. Tatanan yang dibangun Syekh Siti Jenar adalah masyarakat - sesuai konsep dari Nabi: manusia seperti gigi sisir, sederajat - dengan membongkar tatanan lama, konsep raja-kawula. (Agus Sunyoto: 2004).

Paska Siti Jenar, beberapa abad kemudian, lahir pergerakan perlawanan yang diilhami oleh semangat Al-Husain di Nainawa, yaitu Perang Jawa (1825-1830) dengan tokoh utama Pangeran Diponegoro. Spirit Al-Husain menjadi semangat pendorong bagi laskar Diponegoro dalam melawan kezaliman kolonialisme Belanda, dengan pekikan slogan dari pangeran Diponegoro, seperti yang tertulis dalam Babadnya oleh R. Ng. Yosodipuro II:

"Den siro poro satrio nagari metaram nagarining Jawi hingdodotiro, sumimpin watak, wantune Sayyidina NGALI, sumimpin kawicaksanane Sayyidina KASAN, sumimpin kakendelane Sayyidina KUSEN. Den seksenono, hing wanci SURO, LONDO bakal den siro sirnaake soko tanah jawa. Krana sinurung pangribawaning para satrianing MUKHAMAD yoiku NGALI, KASAN, KUSEN. Siro podho lumaksanana yudha kairing takbir lan solawat, yen siro guguring bantala cinandra, guguring sakabate sayyidina KUSEN ing NAINAWA (KARBALA)"

Yang artinya :

(Wahai kalian para ksatria negeri Mataram Negeri Jawa di hati kalian, dipimpin oleh watak keberanian Sayidina Ali, Dipimpin oleh kebijaksanaan Sayidina Hasan, dipimpin keberanian Sayidina Husain. Saksikanlah, pada saat bulan Muharram (Suro), Belanda akan kalian sirnakan dari Tanah Jawa. Karena didorong oleh kewibawaan para Ksatria Muhammad yaitu Ali, Hasan, Husain. Laksanakanlah perang, dengan iringan Takbir dan Shalawat. Jika kalian gugur dalam berperang, maka kalian akan gugur seperti gugurnya Sahabat Sayidina Husain di Nainawa).


Namun, ketika semangatnya telah menginspirasi gerakan-gerakan revolusi di seluruh dunia yang tertindas oleh kuasa despotisme, ada usaha untuk mendistorsikan sejarah perjuangan Imam Husain di Karbala. Di Jawa, sejarah Imam Husain menjadi semakin terpinggirkan, hanya menjadi klangenan, dan hanya simbol-simbol seperti bubur suro atau rebo wekasan yang masih kita lihat. Dan sejarah Imam Husain di Nainawa telah bergeser menjadi hanya sekedar dongeng sebelum tidur untuk anak-anak, bukan lagi sebagai eulogi perlawanan.

Geertz menuliskan ada pemahaman atas peristiwa Asyura berdasar dongeng, yang sudah jauh dari proporsionalitas sejarah aslinya, meski diakuinya, sejarah Asyura berbeda di tiap tempat, sebagai berikut:

"10 Suro: untuk menghormati Hasan dan Husein, keduanya cucu Nabi, yang menurut cerita ingin mengadakan slametan untuk Nabi Muhammad ketika beliau sedang berperang melawan kaum kafir. Mereka membawa beras (dimana mereka memperoleh beras di negeri Arab tidak dipersoalkan) ke sungai untuk dicuci, tetapi kuda musuh menghampiri dan menendang beras itu ke sungai.

Kedua anak itu menangis dan kemudian memungut beras yang telah bercampur pasir dan kerikil. Namun mereka memasaknya juga menjadi bubur. Dengan demikian slametan ini ditandai oleh dua mangkuk bubur - yang satu dengan kerikil dan pasir di dalamnya untuk dimakan para cucu, dan satunya lagi dengan kacang dan potongan ubi goreng untuk melambangkan ketidakmurnian, yang akan dimakan oleh orang dewasa..." (Clifford Geertz, Religion of Java, hal : 105)

Sepanjang sejarah, umat Islam Sunni menerima sejarahnya sebagai sesuatu yang final, apa adanya, apa yang sebenarnya (Das Sein). Kalangan Muslim Syi'ah menerima sejarah sebagai apa yang seharusnya (Das Sollen). Sepanjang sejarah pula, kalangan Muslim Syi'ah berusaha untuk mensebenarkan apa yang seharusnya, bukan menseharuskan apa yang sebenarnya.

Wallahu 'a'lam bish shawab

Selasa, 26 Januari 2016



ARMENIA, RUSIA, TURKI & JERMAN

 Oleh: Sulaiman Djaya

Pada perang dunia pertama, sekira satu setengah juta warga Armenia dibantai Turki, perempuan-perempuan Armenia disalib dalam keadaan telanjang setelah diperkosa. Demikianlah ketika Bashar Al-Assad mengetahui Turki mendukung salah-satu faksi geng perang, yaitu Teroris Front Al-Nusra (bersamaan dengan ketika agressi terhadap Suriah dilancarkan), Bashar Al-Assad segera menekan Rusia agar Rusia turun tangan demi menghindari tragedi itu terulang.

Kala itu, di tahun 1913, kaum ultranasionalis Young Turks mengambil alih kekuasaan di Konstantinopel (Istanbul). Mereka adalah Mehmed Talat Pasha, Ismail Enver Pasha, dan Ahmed Djemal Pasha (arsitek pembantaian). Pada 1914, Turki masuk dalam kancah Perang Dunia I, berpihak kepada Jerman dan Kekaisaran Austro-Hongaria setelah menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman dan mendirikan Aliansi Ottoman-Jerman pada Agustus 1914, dengan tujuan melawan Rusia sebagai musuh.

Pada Oktober 1914, Turki melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan Rusia dan menyatakan orang Armenia ”musuh internal”. Para pemimpin militer berargumentasi bahwa orang-orang Armenia adalah pengkhianat. Orang Armenia membentuk batalion relawan untuk membantu tentara Rusia melawan orang Turki di kawasan Kaukasus. Hal ini membuat orang Turki curiga kepada orang Armenia dan memaksa mereka keluar dari zona perang di front timur.

Pada Februari 1915, Talat Pasha memberi tahu kepada Duta Besar Jerman bahwa inilah saatnya memberi jawaban atas pertanyaan tentang Armenia. Komite Pusat Ottoman membahas rencana ”menghapus bangsa Armenia”.

Pada 24 April 1915, pembantaian dimulai. Pada hari itu pemerintahan Ottoman menangkap dan mengeksekusi ratusan intelektual Armenia di Konstantinopel. Setelah itu, rakyat Armenia dipaksa keluar dari rumah mereka dan dibiarkan mati ketika berjalan kaki di tengah gurun Mesopotamia tanpa makanan dan tanpa air. Mereka ditelanjangi dan dipaksa berjalan kaki di bawah sengatan terik matahari sampai akhirnya meninggal dunia. Mereka yang berhenti untuk beristirahat ditembak mati.

Singkat kata, tidak usah heran kalau Turki saat ini pro NATO (dan anggota NATO), karena dari dulu (sejak perang dunia pertama) juga Turki adalah anggota NATO (pro aliansi Barat). Hal itu berbeda dengan Persia (Iran) yang tetap 'mempertahankan' identitas Asia Tengah dan Mediteranianya. Kesimpulannya: Persia is the best than Turks (orang Persia itu lebih cerdas dan lebih beradab ketimbang orang Turki).

NB: "Aku tidak bangga kepada muslim yang keji, karena agama Islam yang kuketahui tidak mengajarkan kekejian". Moral perang Turki sangat bertentangan dengan ajaran Islam, di mana dalam etika Perang Islam, adalah haram mutlaq menganiaya dan membantai warga sipil....Wajar jika Presiden Muslim Chechnya, yaitu Ramzan Kadyrov, pernah menyindir Turki (Erdogan) sebagai bangsa yang memalukan dalam konteks konflik di Suriah.

JASMERAH, kata Bung Karno, pelajari dan renungkanlah sejarah alias jangan sekali-kali melupakan sejarah....

Kamis, 10 Desember 2015

Sebuah Manuskrip [naskah] kuno yang menceritakan tentang hubungan antara Imam Ali as dan Kerajaan Siliwangi telah dijadikan referensi resmi oleh pemerintah Kabupaten Garut Jawa Barat sebagai khazanah budaya yang otentik dan bernilai sejarah tinggi.

  • Kecamatan : Leles
  • Nama pemegang naskah : Encon 
  • Tempat naskah : Desa Cangkuang 
  • Asal naskah : pemberian 
  • Ukuran naskah : 16 x 20.5 cm 
  • Ruang tulisan : 15 x 18 cm 
  • Keadaan naskah : baik 
  • Tebal naskah : 71 Halaman 
  • Jumlah baris per halaman : 15 baris 
  • Jumlah baris halaman awal dan akhir : 15 dan 13 baris 
  • Huruf : Arab/Pegon 
  • Ukuran huruf : sedang 
  • Warna tinta : hitam 
  • Bekas pena : agak tajam 
  • Pemakaian tanda baca : ada 
  • Kejelasan tulisan : jelas 
  • Bahan naskah : kertas daluang 
  • Cap kertas : tidak ada 
  • Warna kertas : coklat kekuning-kuningan 
  • Keadaan kertas : agak tebal 
  • Cara penulisan : timbal balik 
  • Bentuk karangan : puisi (tembang) 


Ringkasan isi :
Naskah ini berisi cerita tentang kisah seorang tokoh yang bernama Keyan Santang: putra Raja Padjajaran Sewu. Prabu Siliwangi, yang gagah perkasa kemudian masuk Islam. Ia menyebarkan agama baru yang dianutnya itu di Pulau Jawa dan menetap di Godog. Suci Kecamatan Karangpawitan Garut sampai akhir hayatnya. Nama-nama lain yang disandang tokoh itu adalah Gagak Lumayung, Garantang Sentra. Pangeran Gagak Lumiring. Sunan Rakhmat, dan Sunan Bidayah.

Pada suatu hari Keyan Santang berdatang sembah kepada ayahandanya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yakni hasrat hatinya untuk dapat melihat darah sendiri. Kemudian baginda memanggil para ahli nujum untuk menanyakan siapa gerangan orang yang sanggup memenuhi keinginan Keyan Santang seperti yang diucapkannya tadi. Para ahli nujum tidak seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan raja. Tetapi kemudian seorang kakek yang sudah tua renta dating menghadap baginda raja dan berkata. ? Daulat tuanku, hamba hendak menghabarkan kepada tuanku bahwa sebenarnya ada orang yang dapat memperlihatkan darah raja putra itu. Ialah Baginda Ali di Mekah.?

Prabu Siliwangi bertanya,?Siapa kiranya yang akan unggul bila anakku bertarung dengan dia?? Selesai pertanyaan itu diucapkan, maka tanpa memperlihatkan jawaban kakek itu pun lenyap dari pandangan. Menurut yang empunya cerita, kakek itu tak lain adalah Malaikat Jibril.

Nama Baginda Ali terkesan pada hati Keyan Santang. Sekarang ia ingin mencari orang yang memiliki nama itu ke Mekah. Setelah meminta izin dari Prabu Siliwangi dan menyetujuinya untuk berangkat, maka Keyan Santang terbang. Namun ia belum tahu jalan ke Mekah. Baru saja ia tinggal landas, di atasnya terdengar suara tanpa wujud sumbernya, ?Engkau bernama Geranta Sentra!?

Setelah itu tampak olehnya seorang putri yang sangat cantik turun dari langit. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan putri itu. Kemudian putrid itu minta kepada Keyan Santang agar diambilkan bintang-bintang dari langit. Setelah selesai mengucapkan permintaannya itu, maka hilanglah putri itu. Ingin memenuhi permintaan sang putri, Keyan Santang bertambah tinggi terbangnya, ia bermaksud akan memetik bintang. Tetapi malah bintang itu berterbangan jauh ke langit. Keyan Santang tidak putus asa, ia terus mengejar bintang itu hingga akhirnya ia sampai di atas Mekah. Karena Keyan santang demikian bernafsunya ia ingin dapat menangkap salah satu bintang, maka langit di atas Mekah pun menjadi hingar bingar. Suara gaduh itu membuat baginda Ali ingin melihat keadaan langit.

Tak lama kemudian bertemulah Baginda Ali dengan Keyan Santang. Terjadilah percakapan antara mereka. Kata Baginda Ali ,?Kau dapat mengambil bintang, asal kau tahu dahulu mantranya. ?Keyan Santang menanyakan bagaimana bunyi mantra itu. Kemudian Baginda Ali mengucapkan mantra yang berbunyi. ?Allohusoli ala nu dimakbul Sayidina Muhammad?. Setelah Keyan Santang mengucapkan mantra itu, ia dapat menangkap bintang dari langit. Ternyata bintang itu berupa untaian tasbih.
Diketahui akhirnya oleh putra raja Padjadjaran itu bahwa yang mengajarkan mantra itu adalah baginda Ali yang tengah dicarinya. Timbul keinginan Keyan Santang untuk mengajak bertarung dengan Baginda Ali. Tetapi Baginda Ali sudah tidak ada. Keyan Santang hanya bertemu dengan seorang tua bangka yang sedang membawa tungked (tongkat) dan tiang mesjid. Terjadilah percakapan antara Keyan Santang dengan orang tua itu . Keyan Santang mencoba untuk mencabut tongkat yang ditancapkan oleh orang tua tadi, tetapi tidak berhasil Setelah diketahui bahwa orang tua itu tidak lain adalah Baginda Ali, maka Keyan Santang pun menyatakan takluk dan kemudia mau memeluk agama Islam. Keyan Santang berganti nama menjadi Sunan Rakhmat atau Sunan Bidayah.

Keyan Santang pun memeiliki tugas untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Prabu Siliwangi menolak bahkan tidak mau memeluk agama Islam. Kemudian dengan jalan menembus bumi raja Padjadjaran itu pergi dari Padjadjaran Sewu. Sementara itu para bangsawan Padjadjaran bersalin rupa menjadi bermacam-macam jenis harimau. Sedangkan keraton serta merta berubah menjadi hutan belantara. Konon harimau-harimau itu menuju hutan Sancang mengikuti Prabu Siliwangi.

Sementara itu Sunan Rahkmat meng-Islamkan rakyat yang ada di Batulayang, Lebak Agung, Lebak Wangi, Curug Fogdog, Curug Sempur, dan Padusunan. Sewaktu itu Sunan Rakhmat kawin dengan Nyi Puger Wangi yang berasal dari Puger. Dari Puger Wangi Sunan Rakhmat mempunyai anak kembar, kedua-duanya laki-laki, kakaknya bernama Ali Muhammad dan adiknya Pangeran Ali Akbar. Sayang sekali tak lama kemudian setelah melahirkan Nyi Puger Wangi meninggal dunia.

Dalam kesedihan karena ditinggal istri, Sunan Rakhmat terus menyiarkan agama Islam di Karang Serang, Cilageni, Dayeuh Handap, Dayeuh Manggung, Cimalati, Cisieur, Cikupa, Cikaso, Pagaden, Haur Panggung, Cilolohan, warung Manuk, Kadeunghalang, dan Cihaurbeuti. Pada suatu saat pernah pula Sunan Rakhmat berangkat lagi ke Mekah.

Waktu akan pulang lagi ke Jawa, Sunan Rakhmat dibekali tanah Mekah yang dimasukan ke dalam peti. Di dalam peti itu diletakkan pula sebuah buli-buli berisi air zam-zam. Selain itu Sunan Rakhmat diberi hadiah kuda Sembrani oleh ratu Jin dan Jabalkop.

Alkisah disebutkan bila peti itu gesah (bergoyang) di suatu tempat di Pulau Jawa, maka itulah tandanya Sunan Rakhmat mesti berhenti. Di sanalah ia mesti bermukim. Adapun menurut yang empunya cerita, tempat bergoyangnya peti itu di Godog. Itulah sebabnya Sunan Rakhmat yang nama aslinya Keyan Satang dimakamkan di Godog Karangpawitan Garut.[PemKabGarut. Go. Id

Selasa, 10 November 2015


Penghancuran Makam Baqi Oleh Gerombolan Wahabi Saudi 

Tidakkah mengherankan saat Kaum Wahabi yang menjadi kaki tangan Bani Saud menghancurkan makam, pusara mulia dan semua tempat-tempat bersejarah bagi dunia islam (semuanya diam tak bergerak), sementara itu Raja-raja Saudi dijaga dengan ketat saat Berpesta dengan wanita-wanita penghibur mengabiskan jutaan dolar?

Tahun 1926 protes massal Kaum Muslim bergerak di seluruh dunia. Resolusi diluncurkan dan daftar kejahatan wahabi dibuat. Isinya di antaranya adalah:


  • 1. Penghancuran dan penodaan tempat suci ,di antaranya rumah kelahiran Nabi, pusara Bani Hasyim di Mekah dan Jannat al-Baqi (Madinah), penolakan wahabi pada muslim yang melafalkan al-fatihah di makam-makam suci tersebut.

  • 2. Penghancuran tempat ibadah di antaranya Masjid Hamzah, Masjid Abu Rasheed, dan pusara para Imam dan sahabat yang Sahid .

  • 3. Campurtangan pelaksanaan ibadah haji

  • 4. Memaksa muslim mengikuti inovasi wahabi dan menghapus aturan atas keyakinan yang diajarkan para Imam mazhab

  • 5. Pembantaian para sayid di Thaif, madina, Ahsa dan Qatif

  • 6. Meratakan kuburan para Imam di al-Baqi yang sangat di hormati kaum Syiah


Protes yang sama bermunculan di Iran, Irak, Mesir, Indonesia dan Turki. Mereka mengutuk tindakan barbar Saudi Wahabi. Beberapa ulama menulis traktat dan buku untuk mengabarkan dunia fakta-fakta yang terjadi di Hijaz adalah konspirasi karya Yahudi melawan Islam dengan berkedok Tauhid. Tujuan utama adalah menghapus secara sistematis akar sejarah Kaum Muslim sehingga nantinya Kaum Muslim kehilangan asal-usul keagamaannya.

Tindakan barbar Kaum Wahabi boleh jadi menginspirasi peristiwa bersejarah lainnya.Sejarah perang dunia kedua mengingatkan kita akan kekejaman Nazi Jerman. Orang-orang Yahudi melarikan diri setelah dikejar-kejar untuk dibunuh Nazi.

Berikut ini daftar makam dan tempat yang juga dihancurkan Kaum Wahabi


  • -Pemakaman al-Mualla di Mekah termasuk pusara isteri tercinta Nabi, Sayidah Khadijah binti Khuwailid , Makam Ibunda Rasul Siti Aminah binti Wahhab, makam pamananda Rasul Abu Thalib (Ayahanda Ali bin Abu Thalib) dan makam kakek Nabi Abdul Muthalib

  • -makam Siti Hawa di Jedah

  • -makam ayahanda Rasul Abdullah bin Abdul Muthalib di Madinah

  • -rumah duka (baytl al-Ahzan) Sayidah Fatimah di Madinah

  • -Masjid Salman al_Farisi di Madinah

  • -Masjid Raj’at ash-Shams di Madinah

  • -Rumah Nabi di Madinah setelah hijrah dari Mekah

  • -Rumah Imam Ja’far al-Shadiq di Madinah

  • -Komplek (mahhalla) bani Hasyim di Madinah

  • -Rumah Imam Ali bin Abi Thalib tempat Imam Hasan dan Imam Husein dilahirkan

  • -Makam Hamzah dan para syuhada Uhud di gunung Uhud


Kekejaman Hitler diperingati dunia (Khususnya Jerman dan sekutunya). Kini Nazi dilarang dan orang yang mengusung simbol-simbolnya bisa dihukum dan diusir dari Jerman. Hitler dan Nazi Jerman membantai jutaan Yahudi (versi Ahmadinejad tidak mungkin sebanyak itu). Hitler tidak merusak bangunan karya Yahudi. Hitler tidak merusak kuburan.

Bandingkan dengan tindakan Kaum Wahabi yang tidak saja membunuh dan mengusir orang hidup yang didalamnya Kaum alawiyyin [Keturunan Nabi Muhammad saw] tapi juga orang-orang yang sudah wafat juga ikut “dibunuh’!!!”[q.wp]

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video




VIDEO Terbaru

Random Post

pks