Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perancis. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2016


Dua teroris muda tengah mengikrarkan janji setia mereka kepada Daesh(ISIS). Rekaman video yang dirilis oleh Amaq, kantor berita kelompok teroris ISIS pada Rabu, 27 Juli 2016. 

Tayangan video berikut ini dibuat beberapa saat sebelum pasangan brutal itu menggorok tenggorokan Pastor Jacques Hamel, 86, setelah memaksanya untuk berlutut di sebuah gereja di Saint-Etienne-du-Rouvra agar dapat disembelih.

Abdelmalik Petitjean (kanan), 19, menyerbu gereja di Normandia berdua dengan Adel Kermiche dan memaksa Pastor Jacques Hamel berlutut sebelum menyembelihnya di hadapan 2 orang biarawati dan 3 sandera umat Katolik lainnya, yang saat itu tengah menghadiri perayaan Misa Ekaristi harian pagi pukul 10.00 waktu setempat, yang tengah dipimpin oleh sang Pastur.

Mereka mengatakan "Kami berbai’at (janji ketaatan kepada pemimpin untuk menyerahkan kepadanya segala kebijaksanaan tentang urusan dirinya dan urusan kaum muslimin, sedikitpun tanpa menentangnya; serta perintah pimpinan yang dibebankan kepadanya, suka maupun tidak) kepada Abu Bakr Al-Baghdadi ", yang terpilih sebagai khalifah Islam pada tahun 2014."

Mereka juga tampak menampilkan selembar kertas, menampilkan bendera Daulah Islam.
Pada awal video, salah seorang (kiri) - Adel Kermiche - yang mengenakan jaket kamuflase dan topi hitam, memperkenalkan dirinya dalam bahasa Arab sebagai Abu Jalil Al-Hanafi.

Di sebelahnya, Petitjean, tampak duduk di lantai mengenakan celana panjang krem, topi dan syal merah di atas kepalanya.
Mereka kemudian memaksa umat tertua dari sandera untuk merekam film saat mereka menyembelih Pastor Hamel dengan pisau - sementara polisi anti-teror mulai berdatangan mengepung gedung gereja itu. Seusai melakukan eksekusi, keduanya kemudian ditembak mati setelah muncul ke halaman luar gereja sambil berseru "Allahu Akbar ...."

Abdel Malik Petitjean berulang kali ditembak pada bagian wajah oleh polisi, sedemikian rupa sehingga harus diidentifikasi melalui test DNA.
Ibu Abdelmalik Petitjean sendiri belakangan menyatakan "Saya tidak melahirkan setan" tentang aksi puteranya menyerang sebuah gereja di Normandia dan menggorok tenggorokan sang Pastor tua. 

Petitjean, yang menggunakan nama mujahidin Abu Omar, sesungguhnya tercatat masuk dalam daftar tersangka pelaku teror setelah upayanya yang gagal untuk bergabung dengan ke kekhalifahan ISIS di Suriah melalui Turki bulan Juni lalu.(mirror.co.uk)

Silahkan simak VIDEO Baiat anggota ISIS asal Perancis kepada Abu bakar bagdadi.



Jumat, 15 Juli 2016


Setidaknya 80 orang tewas dan 50 terluka dalam tragedi serangan truk yang menghantam kerumunan pesta Bastille Day di Nice, Prancis, Kamis (14/7) malam waktu setempat.

Pada dokumen yang ditemukan Polisi tertera, sopir itu adalah seorang pria berusia 31 tahun Bernama Mohamed Lahouaiej Bouhlel,
 penduduk Nice, berdarah Tunisia-Prancis. 

Banyak saksi mata mengatakan, sebelum tewas ditembak, sopir meneriakkan allahu akbar sebanyak dua kali.
Kelompok yang pro-ISIS disebut merayakan serangan tersebut. 

Seperti kita tahu bahwa Prancis merupakan surga bagi kelompok Wahabi Salafi yang intoleran, Aliran ini tumbuh subur di Perancis yang memiliki penduduk multietnis. 

Simak video nya saat truk trailer melindas warga kota Nice Prancis. 




Jumat, 29 Januari 2016



Agenda makan siang antara Presiden Prancis dan Presiden Iran dihapus dari jadwal setelah tuan rumah Prancis menolak menyingkirkan minuman anggur sebagai menu jamuannya.

Setibanya di Prancis pada Rabu (27/1) sedianya Presiden Iran, Hassan Rouhani dijadwalkan makan siang dengan Presiden Perancis Francois Hollande di Restoran kelas atas sebagai bagian dari kunjungan Rouhani di Eropa. Namun permintaan Iran agar menu makanan halal dan bebas alkohol ditolak.

Pejabat Perancis mengatakan bahwa menyajikan makanan sesuai yang diminta Iran bertentangan dengan nilai-nilai Republik Perancis.

Sumber lokal melaporkan, “Para pemimpin itu kehilangan sebuah kesempatan besar untuk bertemu dalam suasana jamuan makan yang santai”.

Lawatan Rouhani di beberapa negara Eropa untuk menandatangani kerja sama usai sanksinya dicabut, kunjungannya ke Italia sebelumnya berlangsung lebih lancar. Pejabat Italia bahkan menutup patung-patung telanjang tanpa diminta oleh pejabat Iran sebelumnya dan menyingkirkan alkohol dari menu makan malam. [islaminesia]

Selasa, 19 Januari 2016



Perancis mengumumkan penutupan dan pelarangan operasi tiga kelompok muslim radikal. Pelarangan itu berhubungan dengan beberapa kelompok yang dikelola oleh masjid yang telah ditutup oleh kementerian dalam negeri pada awal desember 2015 di wilayah Lanie. Penutupan itu didasari atas adanya dugaan bahwa kelompok pengajian itu dipakai untuk menyerukan “jihad” dan pengiriman jihadis ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kelompok teroris.
Baca: PM Perancis : Wahabi Salafi Ancaman Nyata Perancis 
Perdana Menteri Manuel Valls dan Menteri Dalam Negeri Pierre Kaznov telah menandatangani pelarangan beroperasinya tiga asosiasi tersebut. Ketiga asosiasi itu bernama asosiasi “kembali pada dasar-dasar (agama)” dan asosiasi “kembali pada dasar-dasar Islam” serta asosiasi “masyarakat muslim Lanie-mar”.

Keputusan itu diambil berdasarkan pada materi yang tertera dalam undang-undang keamanan dalam negeri yang menyebutkan pelarangan asosiasi atau perkumpulan yang beroperasi di Prancis yang kegiatannya dipastikan untuk menghasut tindakan teror baik di dalam maupun di luar [Perancis-red].

Menurut sebuah keterangan yang dikeluarkan oleh Kementerian Dalam Negeri Perancis, Rabu (13/01), menyebutkan bahwa larangan itu telah disampaikan kepada tiga asosiasi yang menggunakan payung agama, berusaha menyebarkan ideologi radikal dan menghasut untuk “jihad” dan pergi ke Suriah dan Irak melalui Mesir. [Salafinews]

Rabu, 09 Desember 2015

Islamophobia nampaknya tengah melanda Perancis pasca serangan teror bom beberapa waktu lalu, baru-baru ini pemerintah Prancis  menutup 3 Mesjid yang diduga sebagai sarang teroris dan menagkap 232 orang terduga teroris Setelah Sebelumnya Pengadilan Di Perancis Resmi Melarang Pemakaian Jilbab Di Negaranya.


Kini kementerian Dalam Negeri   Perancis   Bernard   Cazeneuve     mengklaim     bahwa   Kepolisian   Prancis   telah  menangkap 232 orang dan menutup 3 Masjid dengan menggunakan Undang-Undang Keamanan Darurat yang diberlakukan   setelah   Serangan   Paris  bulan  lalu, demikian dilansir oleh France 24.

Menteri Bernard   mengatakan   pihak   Kepolisian   telah   menggerebek   salah   satu   Masjid   di   Lagny-sur-Marne,   yang   terletak   di   daerah   pinggiran   timur   kota Paris,   pada   awal Rabu pagi,   yang   menempatkan   9   Muslim sebagai   tahanan rumah   dan   melarang     Muslim lainnya   meninggalkan   Negara   itu.
Cazeneuve mengatakan bahwa otoritas Kepolisian     telah     melakukan     2235   penggerebekan   di   seluruh   negeri   itu   sejak   insiden   Serangan   Paris  13   November   lalu. Dia   menambahkan   bahwa   pihak Kepolisian   telah   menyita   334   senjata, termasuk   24 senjata kelas militer.

Pemerintah   Prancis   melancarkan     tindakan   keras   menyisir   terduga   kelompok     teroris   dibalik insiden serangan   Paris,   dengan   memberikan   otoritas   Kepolisian     Prancis   kekuasaan   yang   luas   di bawah situasi   keadaan     darurat   dimana   jangka waktu pemberlakuan   situasi darurat   ini   telah     diperpanjang Parlemen     Prancis sampai bulan Februari 2016.

Sementara   jajak   pendapat     menunjukkan   bahwa   pemberlakuan     keadaan     darurat     mendapat   dukungan  yang   cukup   besar   di   kalangan   publik Perancis.[france24]   

Minggu, 06 Desember 2015

Presiden Suriah Bashar Al Assad menegaskan bahwa serangan udara Inggris dan Perancis di negaranya gagal dan merupakan serangan ilegal. Pasalnya, negara-negara tersebut merupakan negara pendukung kelompok-kelompok teroris yang layaknya tumor, dan tumor harus dicabut.


Kantor berita Sana, Minggu (6/12) melaporkan, Bashar Al Assad dalam wawancara dengan majalah mingguan Sunday Times menuturkan, “Serangan udara Inggris dan Perancis di Suriah, ilegal, karena dilakukan tanpa kerja sama dengan pemerintah Damaskus.”
Akan tetapi, katanya, Rusia sebelum melakukan intervensi militer di Suriah, terlebih dahulu menginformasikannya kepada pemerintah berdaulat Suriah kemudian mengirimkan pasukannya.
“Inggris dan Perancis sejak awal adalah ujung tombak dukungan atas terorisme di Suriah, kedua negara itu tidak punya tekad untuk memerangi terorisme atau pemahaman yang benar soal cara mengalahkannya,” tambahnya.
Assad menganggap klaim Perdana Menteri Inggris, David Cameron, terkait kehadiran 70 ribu pemberontak moderat di Suriah, sebagai rantai kebohongan dan penyimpangan realitas.
“Rusia sebelumnya meminta negara-negara Barat untuk memberikan informasi soal lokasi pasukan pemberontak tersebut beserta para pemimpinnya, namun tidak ada jawaban,” jelas Assad.
Menurut Assad, koalisi internasional anti-ISIS pimpinan Amerika Serikat adalah koalisi palsu.
“Koalisi ini tidak pernah meraih keberhasilan nyata dan karena itu Suriah tidak akan menghabiskan waktu untuk membahas langkah-langkah koalisi Amerika. Suriah akan mengesampingkan masalah-masalah sekunder dan melanjutkan perang melawan terorisme,” paparnya.
Assad menilai dukungan tanpa batas sebagian negara atas para teroris, sebagai faktor yang memperpanjang dan memperumit krisis Suriah.
Ditegaskannya, kelompok-kelompok teroris di Suriah termasuk ISIS dan Front Al Nusra tidak ada bedanya, karena keduanya mengikuti ideologi menyimpang dan gelap Wahabisme.
“Menurut pengakuan Tony Blair, Inggris dan Perancis ikut membantu melahirkan ISIS dan Front Al Nusra di Irak dan Suriah,” pungkasnya.[Berita Empat] 

Rabu, 18 November 2015

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mewacanakan pelemahan kelompok Islam radikal di Prancis dengan menggencarkan pengenalan budaya dan pendidikan sekuler barat. Dengan demikian, ia berharap kelompok Islam radikal akan lebih diterima masyarakat masyarakat Prancis.

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls

"Perang melawan ancaman di masyarakat kita, Islam radikal harus melewati sekolah dan budaya yang mendukung sekularisme," kata Valls dilansir dari Ibtimes pada Selasa (17/11). Cara ini diyakini dia akan membuat Islam dan muslim akan lebih diterima masyarakat Prancis.
Baca: Masyarakat Eropa mulai sadar bahaya wahabi 
Dia mengingatkan, ancaman Muslim radikal bukan hanya membahayakan masyarakat Prancis, tapi juga mencoreng muslim Prancis. Valls berharap muslim Prancis dapat melawan paham ideologi radikal yang terbukti telah menewaskan 129 orang pada tragedi di Paris.

Ideologi radikal yang menjadi ancaman tersebut, kata dia diantaranya adalah Wahabi dan Salafi. "Wahabisme dan Salafisme telah mengubah wajah Islam, ini bahaya nyata bagi Muslim dan Prancis," kata Vall. Valls mengatakan dua ideologi ini berpaham ultra konservatif dalam Sunni Islam yang selalu menekankan pendekatan kekerasan.

Menteri Dalam Negeri Bernard Cazeneuve, menyambut baik langkah ini. Ia menyetujui  perang melawan ekstrimisme harus dilakukan dengan dua cara, selain kekuatan intelejen keamanan, juga harus dilakukan dengan cara lebih lembut.[Republika]  

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video




VIDEO Terbaru

Random Post

pks