Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 November 2016

Dulu Anda bilang  Demo Haram tad, kok Anda malah orasi memprovokasi massa untuk demo

Ternyata Tokoh Pemimpin demo bela Islam 411 yang bernama ustad Bachtiar Nasir yang pernah menjadi anggota lembaga fatwa MUI dalam salah satu ceramah nya pernah mengatakan, "Haram melakukan aksi demo". Karena demonstrasi sama sekali tidak pernah ada ajarannya di dalam syariat Islam. "Tujuannya apa? Kalo ada demo berarti ada yang membayar."

Lihat videonya:

Lebih lanjut Bachtiar Nasir menilai demonstrasi bukanlah solusi memecahkan masalah. Justru demonstrasi hanya mengganggu ketertiban umum dan mengganggu orang yang sedang mencari nafkah.

Pertanyaan nya sekarang, kok bisa ya Bachtiar Nasir menjilat ludahnya sendiri?? Atau jangan-jangan dia juga ada yang membayar ya?
Yang benar mana ini tad, katanya demo Haram, kok Anda malah jadi pemimpin nya sih..
Think smart.

Penulis: Van Harry


Minggu, 20 November 2016

Panglima TNI dan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya bersama seluruh elemen masyarakat yang cinta kepada Bhinneka dan NKRI

Panglima TNI, Jenderal Gatot Numantyo, mengajak seluruh peserta unjuk rasa damai aksi Bela Islam jilid III, yang akan berlangsung pada Jumat, 2 Desember 2016, agar tertib sesuai dengan aturan.

Namun, Panglima TNI menegaskan bila ada insiden tidak diinginkan, pihaknya siap mempertahankan dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari seluruh ancaman yang muncul.

"Silahkan demo, untuk menyampaikan pendapat. Tapi kalau sudah anarkis, makar, maka akan berhadapan dengan prajurit saya TNI dan Polri," kata Panglima kepada awak media di Medan.

Panglima juga menegaskan TNI siap menjaga dan mempertahankan kedaulatan  NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Para prajurit saya pun siap mempertaruhkan apapun, termasuk mengorbankan nyawa mereka sendiri untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

"Prajurit saya juga siap berjihad mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila bersama seluruh komponen masyarakat. Kita bersama, jangan ada yang ditakuti," ujar Panglima.

Dengan ini, dia meminta seluruh elemen untuk bersama-sama menjaga kedaulatan NKRI nampak hadir juga Habib Muhammad Luthfi bin Yahya yang siap mendukung upaya TNI Polri dalam menghadapi kelompok Islam yang ingin Makar.

Lihat videonya:


Lebih lanjut Panglima TNI menjelaskan, "Untuk aksi 2 Desember, kita berdoa. Siapapun yang mengacau bangsa ini, tidak bisa. Yang mengacau bangsa ini bukan orang yang beragama, saya yakin, kelompok radikal Islam seperti DI/TII Kahar Muzakkar (red:termasuk ISIS dan FPI), komunis, akan berhadapan dengan TNI-Polri serta seluruh masyarakat," ucap Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan.

Penulis: Van Harry

Rabu, 16 November 2016

Penghinaan komandan FPI, Munarman Kepada Presiden, Panglima TNI dan Kapolri dengan menyebutnya sebagai (maaf) kodok-kodok.

Lagi Lagi Munarman yang saat ini menjadi komandan Laskar Jihad FPI Menghina dan melecehkan simbol Negara, kali ini yang jadi sasaran pelecehan dan hinaan adalah Presiden Republik Indonesia dan Para Panglima Tinggi institusi TNI dan Polri.

Sebagaimana yang kita tahu Selama berkeliling ke Markas-markas TNI, Presiden Jokowi didampingi Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo; Kepala Satuan Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono; Komandan Jenderal Kopassus, dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Lihat videonya;



Presiden dan Para panglima tinggi TNI inilah yang di sebut dalam Video oleh Munarman sebagai (maaf) kodok-kodok yang berkeliling ke Markas-markas prajurit yang memiliki senjata, untuk menakut-nakuti 'Umat islam'.

Penulis: Manhaj Salafi

Senin, 14 November 2016

Ulama MUI Din Syamsuddin merayakan pesta ulang tahun bersama Tim Sukses Pasangan salah satu calon Gubernur DKI salah satunya nampak lieuis Seungkharisma.

Kasihan umat Islam ini, dari berbagai arah telah ditipu ormas yang mengatasnamakan Pembela Islam, belum lagi  para pemuka Islamnya yang terhimpun dalam wadah MUI juga menipunya. Semoga saja Umat Islam semakin sabar memegangi agamanya dengan teguh. Dan gejala makin banyaknya para ulama penjual agama ini dapat dilihat dari perilaku nya yang dengan sengaja seenaknya  mengeluarkan fatwa titipan dari para aktor politik.

Bahkan orang yang dianggap ulama ini telah meniru budaya orang-orang yang sering mereka sebut dengan 'kafir', seperti ulang tahun misalnya. Karena menurut mereka ulang tahun atau MILAD adalah BID'AH(amalan yang tidak ada di zaman Nabi). Hal ini bisa dibuktikan dengan di haramkan nya peringatan MILAD nabi Muhammad SAW sendiri.

Lihat videonya:

Dalam Video ini nampak mantan Ketua MUI yang sekarang menjadi dewan penasehat Muhammadiyah sedang merayakan ulang tahun bersama Lius Sungkharisma dan Siti Zuhro( 2 orang yang paling membenci Ahok) yang juga menjadi tim sukses pasangan salah satu calon gubernur DKI. Jika ulama saja sudah bersikap tendensius seperti ini apakah mungkin fatwanya bebas dari unsur pesanan?? Inilah mungkin yang di maksud Ahok dengan mengatakan, " Jangan mau ditipu orang Pakai ayat..."

Jadi kesimpulannya menurut cara pandang MUI, 'pemimpin' Kafir itu haram tapi budaya 'kafir' tidak Haram.
MASIH MAU PERCAYA SAMA MUI ?

Penulis: Jenar Tamer

Sabtu, 12 November 2016

Jokowi bersama TNI dan POLRI

Seandainya Ahok pemain bola, maka harganya sekarang selangit. Ia melebihi harga Paul Pogba, pemain termahal dunia saat ini. Berdasarkan kelangkaan dan kontroversialnya (estimasi penulis), harga Ahok saat ini berada pada kisaran 500 juta US dollar atau setara dengan 6,5 Triliun Rupiah. Sebuah harga fantastis bagi seorang pejabat selangka Ahok. Harga itu bisa semakin mahal jika ia bebas dari kasus tuduhan penistaan agama.

Bagi rakyat yang anti korupsi, Ahok jelas sosok langka di zamannya. Ia adalah sosok yang dinantikan setelah Indonesia 70 tahun merdeka. Keberanian luar biasa Ahok menghabisi para koruptor di birokrasi Pemprov DKI adalah bukti nyata kehebatannya.

Jelas, sangat sulit menemukan sosok berani mati seperti Ahok dalam membela uang rakyat. Itulah sebabnya harga seorang Ahok sangat mahal di mata rakyat yang hancur lebur di kubangan korupsi. Ia adalah mutiara melebihi emas di eranya.

Bagi musuhnya, Ahok jelas sangat mahal sekali. Demo 4 November 2016 lalu menelan biaya lebih Rp. 100 miliar. Duit sebanyak itu, jelas tidak sedikit. Sekarang ini saja, para musuh Ahok telah menempatkan 15 orang per kecamatan di seluruh DKI untuk menolak setiap kampanye Ahok. Berapa biaya seluruh personil yang ditempatkan oleh musuh Ahok demi menjegalnya sampai Pilkada 2017 mendatang?

Jika dihitung biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh musuh Ahok sebelumnya demi menjegalnya, maka total biaya penjegalannya Ahok luar biasa besar. Itu bisa dilihat  secara gamblang pada institusi BPK dan DPRD DKI. Pada kasus Sumber Waras misalnya, BPK terpaksa kehilangan nama ‘baik’ atau nama munafiknya. BPK pun terpaksa menerima nasib dicap ‘ngaco’ oleh Ahok.

Gara-gara Ahok, BPK berpotensi kehilangan pendapatan dari kong kali kong dengan seluruh pejabat di Indonesia ratusan miliar Rupiah dalam bisnis penilaian WTP. Padahal Hadi Purnomo, mantan ketua BPK, berhasil menjadi kaya raya lewat penjualan nama BPK. Gara-gara Ahok, DPRD DKI terpaksa kehilangan anggaran siluman dengan nilai Rp. 12 Triliun per tahun akibat adanya perlawanan Ahok.

Jika selama lima tahun Ahok memimpin, maka dengan gampang bisa dihitung kerugian anggota DPRD DKI itu. Mereka berpotensi menelan kerugian 60 triliun Rupiah yakni 5 kali Rp. 12 triliun. Fantastis bukan? Hal yang paling mencengangkan adalah potensi kehilangan pendapatan dari para pejabat, preman, mafia berdasi dan para pengusaha akibat keberadaan Ahok.

Berapa kerugian preman Tanah Abang, parkir liar, pemukiman liar, perusahaan bodong yang bekerja sama dengan pejabat Pemrov DKI akibat adanya seorang Ahok? Berapa kerugian para PSK, germo dan pengusaha di Kalijodo gara-gara seorang Ahok? Puluhan miliar, ratusan miliar? Bagi Jokowi, harga seorang Ahok juga sangat mahal sekali. Jika Jokowi bermimpi menjadikan Jakarta menyaingi Singapura, maka hanya Ahoklah yang mampu mewujudkannya.

Siapapun, tak bisa membantah prestasi Ahok dalam membangun Jakarta selama dua tahun kepemimpinannya. Lalu jika Ahok gagal menjadi Gubernur periode kedua, mimpi Jokowi itu akan dikandaskan oleh gubernur penggantinya. Tentu saja bukan hanya itu yang menjadikan Ahok sangat mahal di mata Jokowi. Ahok adalah representasi WNI keturunan yang berhasil menjadi gubernur di ibu kota republik ini.

Benar bahwa WNI ketururunan adalah minoritas di negeri ini.  Akan tetapi merekalah yang menguasai perekonomian negeri ini. Sekarang ini lebih 80 persen ekonomi Indonesia dikuasai oleh WNI keturunan Tionghoa.

Ketika rakyat banyak dan kaum beragama sibuk berkelahi memperebutkan dan membela nama Tuhan, kaum minoritas Tionghoa sibuk dengan sangat tekun, sabar dan ulet membangun ribuan perusahaan. Hasilnya kini, tak ada bidang yang ekonomi di negeri ini yang tidak dikuasai oleh kaum WNI keturunan. Nyaris setiap kota mereka kuasai 100%. Lalu siapa yang salah? Tentu saja rakyat banyak yang menyebut dirinya kaum mayoritas.

Mereka sibuk berdebat siapa yang berhak memiliki Tuhan, dan siapa yang kuat membelanya. Ketika ada kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin, maka sasaran kebencian lagi-lagi kaum WNI keturunan.

Peristiwa 1998 adalah tragedi tak terlupakan bagi WNI keturunan. Paham atas negeri ini yang tidak ramah bagi kaum WNI keturunan, maka tak heran jika duit-duit yang diperoleh berkat keuletannya dan tentu saja juga tak luput dari kong kali kong dengan pejabat yang rakus disogok, disimpan di luar negeri. Diperkirakan duit WNI yang disimpan di luar negeri berjumlah 11 ribu Triliun Rupiah. Di Singapura saja, duit WNI yang simpan di sana ada sekitar 4 ribu triliun. Lalu siapa pemilik duit sebanyak itu? Jelas WNI keturunan dan hanya segelintir dari kaum mayoritas.

Lalu bagaimana caranya menarik kembali dana-dana itu kembali ke Indonesia? Jokowi paham bahwa tidak gampang meyakinkan WNI keturunan untuk menyimpan dananya di Indonesia. Mereka harus yakin dulu bahwa pemerintah benar-benar bersih dari korupsi dan tidak melakukan diskriminasi terhadap mereka. Hal yang kedua adalah mereka harus dilibatkan dalam politik untuk ikut membangun bangsa ini. Itulah sebabnya Jokowi menyetujui Sofian Wanandi sebagai Ketua Tim Ahli Wapres.

Sementara di DKI Jakarta, pusat perputaran duit WNI keturunan, Jokowi sangat mendukung gubernur Ahok yang double minoritas. Sepak terjang Jokowi dalam membangun Indonesia lewat slogan revolusi mentalnya, telah mulai berangsur-angsur mendapat kepercayaan dari WNI keturunan. Itulah sebabnya Jokowi bersama Sri Mulyani sangat yakin keberhasilan program Tax Amnesty itu. Padahal Wapres Jusuf Kalla sendiri dan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo plus anggota DPR amat pesimistis soal keberhasilan Tax Amnesty itu. Akan tetapi mengapa Jokowi begitu yakin?

Lewat Sofian Wanandi, Jokowi tahu  bawa para konglamerat Indonesia mulai percaya kepada pemerintahan Jokowi. WNI keturunan percaya bahwa Jokowi mampu memberi tempat kepada mereka untuk berkontribusi lewat politik untuk membangun negara ini. Apalagi Jokowi begitu mendukung Ahok di DKI, maka fakta itulah yang membuat mereka berbondong-bondong ikut program Tax Amnesty. Jokowi telah membuktikan diri sebagai seorang Pancasilais sejati dan bukanlah seorang rasis.

Terkait kasus penistaan agama yang dituduhkan kepada Ahok, WNI keturunan yakin bahwa tuduhan itu amat kental nuansa politisnya. Ahok sama sekali tidak bermaksud melakukan penistaan agama mayoritas. WNI keturunan amat yakin bahwa justru merekalah yang selama ini dan terutama Ahok yang menjadi korban-korban rasisme paling menderita. Fakta-fakta sejarah telah membuktikan hal itu.

Maka sekarang WNI keturunan terlihat wait and see melihat apa yang dilakukan Jokowi dalam kegelisahan. Bagi WNI keturunan, saat ini mereka berada dalam persimpangan jalan. Jika Ahok menjadi tersangka penistaan agama dan karenanya gagal menjadi calon gubernur DKI Jakarta, maka itu berarti Jokowi tunduk kepada tekanan ormas sangar dan tekanan politik lawannya. Itu berarti Indonesia jelas tidak ramah bagi warga keturunan. Konsekuensinya, WNI keturunan menjadi takut untuk menarik dananya dari luar negeri terutama dari Singapura untuk menyimpannya di Indonesia.

Saat ada demo 4 November 2016, WNI keturunan berbondong-bondong pergi ke luar negeri untuk mengatisipasi jika benar-benar ada kerusuhan. Padahal suskses tidaknya pemerintahan Jokowi amat tergantung pada konstribusi WNI keturunan yang sebagian besar menguasai perekonomian Indonesia. Sebaliknya jika Ahok bebas, maka kepercayaan WNI keturunan kepada pemerintahan Jokowi semakin tinggi. Duit WNI dari Singapura dipastikan akan mulai mengalir ke bank-bank dalam negeri. Program pembangunan insfrastruktur Jokowi akan terus berjalan. Mimpinya untuk menjadikan Indonesia menjadi negara maju semakin mendapat titik terangnya. Apalagi jika Ahok tetap di DKI, maka lengkaplah sudah mimpi Jokowi.

Lalu apa skenario akhir yang dilakukan Jokowi atas Ahok? Jokowi paham bahwa tidaklah cukup alasan untuk menjadikan Ahok tersangka. Jelas bahwa ada banyak pihak yang tidak menginginkan Ahok untuk menjadi DKI-1 periode kedua. Apalagi laporan intelijen menyebutkan  bahwa ada aktor politik yang menggerakkan demo 4 November itu. Hal itu menambah keyakinan Jokowi bahwa jika Ahok berhasil dijegal maka selanjutnya dirinyalah yang menjadi sasaran. Maka skenario akhir adalah menyelamatkan Ahok dari amukan para lawannya dan bukan lagi sekedar membelanya. Jokowi jelas menunggu hasil gelar perkara terbatas yang dilakukan Polri minggu depan. Sebelum hasilnya diumumkan kepada publik, Jokowi dalam seminggu terakhir melakukan kunjungan ke beberapa institusi militer dan kepolisian. Ia diketahui menyambangi markas Kopassus, markas Marinir, Mako Brimob di Kelapa Dua, Depok, mengunjungi basecamp organisasi ormas-ormas islam seperti PBNU dan PP Muhammadiyah. Apa arti pesan kunjungan itu?

Pertama, jika Jokowi paham bahwa Ahok salah, dia tidak perlu repot melakukan kunjungan ke sana kemari dan sibuk beraudensi dengan beberapa pihak di istana. Ia justru akan blusukan meninjau programnya di beberapa tempat. Namun mengapa ia justru sibuk melakukan konsolidasi?

Kedua, konsolidasi kekuatan dan menghindari perpercahan. Lewat konsolidasi elemen-elemen  kekuatan bangsa, Jokowi sedang mengantisipasi gejolak berikutnya jika Ahok akhirnya bebas dari tuduhan penistaan agama. Dengan kunjungan itu, maka Jokowi berusaha meminimalisir tekanan dari berbagai pihak sekaligus menghimpun dan unjuk kekuatan.

Ketiga, jika Jokowi tidak berusaha bertemu dengan SBY dan FPI, itu berarti Jokowi sedang menunjukkan kepada rakyat pihak-pihak itulah yang mencoba merongrong NKRI demi syawat politiknya. Jika nantinya tetap saja ada demo lanjutan pada tanggal 25 November 2016, maka publik akan semakin paham siapa-siapa yang masih ngotot menjegal Ahok. Dan pada saat itulah Jokowi akan all-out menyelamatkan Ahok. Pada tataran itu, Jokowi tidak lagi dicap sebagai pembela Ahok tetapi sebagai pihak yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan sosok yang sedang ditindas.

Jokowi akan memberi perintah untuk menindak tegas mereka  yang berbuat anarkis. Jika terjadi chaos, maka Jokowi tidak segan-segan mengumumkan negara dalam keadaan darurat. Pada saat itu Marinir, Brimob dan Kopassus dan segenap anggota TNI-Polri siap diperintah Jokowi menyelamatkan negara yang berada dalam situasi darurat.


Jadi skenario akhir Jokowi adalah siap menyelamatkan Ahok yang terus dijepit lawannya baik dengan kekuatan diplomasi maupun militer. Dengan kata lain, Jokowi siap babak belur menyelamatkan Ahok, menyelamatkan NKRI dan pemerintah yang sah. Mari kita tunggu hasil gelar perkara Ahok minggu depan. Salam Kompasiana.

Penulis: Asaaro Lahagu

Kamis, 10 November 2016


Hubungan Ahok dan Gus Dur ibarat Kiai dan Santri. Hal ini diakui sendiri oleh Ahok dalam banyak kesempatan. Terutama selama perjalanan politik Ahok, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari Sang Guru, tak terkecuali mengenai Surat Al Maidah 51.

Surat Al Maidah 51 menjadi trend dan viral belakangan ini. Banyak yang menggunakan ayat ini untuk kepentingan politik Pilkada. Setelah pidato Ahok di Kepulauan Seribu, ayat ini mendadak jadi sorotan umat islam se-antero nusantara, bahkan diakumulasi menjadi kekuatan politik “guling-menggulingkan” yang terjadi pada 4 November lalu, di mana Ormas Islam berkumpul mendesak Presiden Jokowi dan aparat segera menangkap Ahok karena dianggap telah melecehkan Alqur’an.

Tentu bukan salah  Ahok  jika kemudian Ahok mengutip Surat Al Maidah, karena Ahok telah mendapatkan informasi sebelumnya dari Gus Dur. Gus Dur lah yang menegaskan bahwa di dalam urusan politik dan pemerintahan, ayat ini tidak relevan. Relevansi ayat ini hanya di wilayah peribadatan, bukan di wilayah politik memilih calon pemimpin.

Lihat videonya
Lebih lanjut dalam video Gus Dur menjelaskan, " Apa umat Islam mau salat di belakangnya orang kristen, salat di belakangnya orang Cina. Ndak mau. Tapi kalau urusan pemerintahan, tidak apa-apa. Di mana pakenya ayat, jangan sembarangan. Kita tidak perlu takut-takut. kita harus bersama-sama memilih orang yang pandai untuk memerintah. Basuki ahok sudah menunjukkan diri untuk menjadi bupati yang baik di Belitung Timur. Di sana semua orang sakit tidak bayar. Bayar 5 ribu untuk semua penyakit,” demikian cuplikan video pidato Gus Dur ditemani Ahok sendiri dan putrinya, Yenny Wahid.

Penulis: Van Harry

Selasa, 08 November 2016

Cuci otak ala ISIS mampu membuat wanita kehilangan sifatnya yang lemah lembut dan penuh kasih sayang menjadi beringas dan liar, bagaimana nanti dengan anak-anak nya?

Wanita ini dengan nada penuh kebencian, dan dengan lantang mengatakan Ahok hanya memiliki dua pilihan. Ahok dipenjara atau Ahok harus mati.

Sebelum menyatakan hal tersebut, wanita berjilbab ini juga mengatakan didepan kamera, Bunuh Ahok ... Bunuh Ahok ... dengan sangat lantang.

Lihat videonya:

Sudah banyak bukti-bukti, mulai dari pria bersorban yang menyatakan akan memberikan uang 1 milliar, pada orang yang berhasil membawa kepala ahok.

Baca juga:
Sayembara Berhadiah 1Milyar bagi siapa saja yang bisa bunuh Ahok, video

Melihat habib rizieq dan FPI yang secara konsisten menyampaikan pidato-pidato kebencian, bahkan mengajak para pengikutnya menyanyikan yel-yel bunuh ahok di depan publik.

Negara tidak boleh diam. Selama dibiarkan, maka bibit-bibit kebencian yang telah terkontaminasi virus ISIS akan bermunculan.

Negara ini bukan negara khilafah, negara ini jelas dibangun atas azas kebersamaan dan kebhinekaan, tidak boleh ada yang merasa paling benar dan menghakimi yang lain di depan publik, semua sama di mata hukum dan para provokator yang mengancam keberagaman, harus diberantas.

Baca juga:
Ancaman Pendukung ISIS saat Demo 4 November Akan Perangi Orang Kafir dan Akan Mengusir Cina dari Indonesia, Video

Habieb Rizieq, bukanlah satu-satunya tokoh agama, dalam konteks ini habieb rizieq tidak lebih dari provokator, antitesis negara. Habieb Rizieq dan FPI adalah bibit penghancur negara.

Tidak boleh Seseorang atau kelompok yang dengan seenaknya selalu lantang menyuarakan ujaran kebencian, pembunuhan dan ancaman apalagi sampai menganggap sebagai haknya.

Negara ini memiliki Hukum, menganut sebuah konstitusi yang menyatakan, "hak hidup setiap warga dijamin oleh Negara dan undang-undang".

Penulis: Manhaj Salafi

Senin, 07 November 2016

PerSamaannya ; Ahok bilang di bohongi orang pakai ayat.. kalo Hb Rizk bilang di tipu ulama pakai Al-Quran..

Inilah Perkataan Habib Rizk Yang sama dengan Apa yang dikatakan Ahok, Tentang kata "MENIPU PAKAI AYAT" tapi Anehnya Habib Rizk tidak di kenakan tuduhan telah menghina ayat Al-Quran sedangkan Ahok dengan perkataan yang sama telah di tuduh telah menghina Al-Quran.

Habib Rizk sendiri dalam ceramahnya membenarkan Tentang adanya orang-orang yang menipu pakai ayat Al-Quran yaitu yang dikatakan nya sebagai ulama Su' (ulama buruk).

Lihat videonya:
Bagi yang belum paham, video ceramah
Rizieq itu menegaskan atau memberi
konfirmasi bahwa Quran memang sering
dipakai untuk menipu orang. Siapa
pelakunya? Contoh yang disebut oleh
Rizieq tadi adalah ulama su'. Apa itu ulama su'? Ulama yang buruk.
Salah satu ciri ulama yang buruk itu adalah dia hidup mewah di tengah umatnya yang susah. Contoh, dia naik Pajero atau Hummer, sedangkan umat naik bis. Itu juga sekali jalan. Pulangnya dibiarin cari angkutan sendiri, nggak dikasih ongkos. Yang lain adalah politikus. Ahok cuma mengingatkan, jangan mau ditipu pakai ayat Quran, oleh orang-orang seperti ini. Makasih, Ahok.


Aneh sekali bukan, Kok bisa Habib Rizk mengingkari hati nurani nya sendiri bahwa apa yang dikatakan Ahok adalah benar seperti dia juga pernah mengatakannya hanya dikarenakan kebencian nya kepada Ahok ??!!

Sungguh sangat sulit berbuat Adil, apalagi kepada orang yang dia benci!!
Ingatlah Firman Allah ini Bib, Karena Allah SWT mengingatkan kepada kita "Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan.” (QS. Al Maa’idah: 8).

Penulis: Ali Mahdi

Jumat, 04 November 2016


Karena lapar tak dapat jatah nasi bungkus akhirnya massa FPI menjarah dan mencuri di mini market saat aksi demo bela Islam.  Lho... Bela Islam kok mencuri?

Kok bisa bela Islam 4 November Dengan Menjarah dan Mencuri?  Siapa yang mengajari kalian?  Siapa yang harus bertanggung jawab?

Kondisi didalam mini market yang dijarah

Tahukah kalian  bahwa dengan mengambil barang orang lain tanpa hak,  merusak properti milik orang lain adalah penistaan agama, dan pelecehan atas ajaran Islam?
Apa Kalian kira Nabi Muhammad Bangga dengan kalian.  Ketahuilah,  kalian telah menistakan agama kalian sendiri dan mencoreng wajah islam dengan kelakuan kalian.

Selain itu, di area Monas, total ada 7 mobil polisi yg dirusak massa koalisi FPI pendemo Ahok.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Mohamad Iriawan, mengatakan tidak apa-apa mobil-mobil polisi dirusak.
“Biarkan saja rusak. supaya semua tahu massa ini anarkis. demo ini sudah anarkis,” kata Iriawan.

Lihat video :

Dalam peristiwa tersebut, polisi menangkap 15 orang yang diduga sebagai pelaku penjarahan. Saat ini, polisi masih terus mengembangkan kasus tersebut.

Penulis: Jenar Tamer

Minggu, 30 Oktober 2016

Abu bakar Ba'asyir otak teroris bom Bali salah satu yang akan dicalonkan menjadi Pemimpin menggantikan Presiden Jokowi

Terkait maraknya issue demo Ormas Islam pada tanggal 4 November nanti Forum Umat Islam (FUI) telah mengeluarkan DAFTAR NAMA CAPRES SYARIAH untuk mengambil alih kepemimpinan dari Presiden terpilih Joko Widodo yang menurut mereka tidak mengerti dan menjalankan Syariah Islam dengan benar. Seperti yang selama ini di suarakan oleh FPI untuk melengserkan Jokowi.

Menurut mereka Pemimpin yang akan dipilih nantinya tidak butuh pada lembaga survey manapun.

Al khatat juga mengatakan, "selama ini kita disuguhi hasil-hasil survey elektabilitas Capres dan Cagub yang dilakukan berbagai lembaga survey kaum sekuler yang menampilkan nama-nama berkutat seputar : Jokowi, Ahok, Yusuf Kalla, Wiranto, Aburizal Bakrie, dan Megawati.
Jika kaum sekuler tersebut yang akan meneruskan estafet kepemimpinan maka bisa ditebak hasil kedepannya seperti apa".

Demikian penjelasan Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khaththath seputar kepemimpinan dalam pengajian di Masjid Raya Bogor. Karena itu menurut Sekjen FUI, sudah saatnya tokoh-tokoh umat Islam yang memiliki ketaqwaan serta kemampuan yang jauh lebih baik untuk tampil memimpin negeri ini. Senada dengan alKhatat, Rizk Shihab juga akan melengserkan Presiden Jokowi dalam demo tanggal 4 November nanti. Tidak hanya Ahok!

Ancaman FPI dan peserta aksi bela Islam 4 November yang akan menjadikan Indonesia sebagai Darul Harb (negeri Perang) dengan memerangi orang kafir dan orang Cina jika tuntutan mereka tidak dipenuhi


Khatat juga menyampaikan SYARIAT ISLAM SATU SATUNYA SOLUSI di NKRI ...
"NKRI bersyariah dengan presiden syariah yang nantinya akan mendekritkan pemberlakuan syariat secara total di negeri ini. Intinya harus syariah, jika ulama besar sekalipun tetapi ia tidak mau menerapkan syariah maka tidak akan kita dukung," ujar  Al Khaththath.

Untuk memulai perjuangan menuju NKRI bersyariah, FUI melakukan program jajak pendapat dengan mengumumkan beberapa calon pemimpin dari tokoh-tokoh Islam yang harus dipilih oleh umat.
Kelompok garis keras ini selalu mempropagandakan khilafah di Indonesia

Para pemimpin umat yang selama ini tampil di permukaan dengan kiprah, latar belakang, dukungan umat, serta pandangan mereka terkait penerapan syariah secara formal di Indonesia adalah sebagai berikut:

(1) Imam Besar DPP FPI Habib Rizieq Syihab, Lc., MA;
(Prestasi: Anti Pancasila, Pendukung ISIS, Anti Kafir)

(2) Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz  Abu Muhammad Jibril AR;
(Prestasi: Penasehat situs Propaganda Teroris Arrahmah dot com, sukses mendidik 2 anaknya menjadi teroris Suriah untuk memerangi BASSAR ASSAD Pemerintah yang Sah )

(3) Amir JAT  KH. Abu Bakar Ba’asyir;
(Prestasi: sukses menjadi tukang cuci otak pelaku Bom bunuh diri. Bom Bali 1&2 adalah Buktinya)

(4) Ketua Majelis Syuro PBB Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra;

(5) Mama Dedeh Pengasuh Pengajian ibu ibu di TV;

(6) Mantan Ketua PP Muhammadiyyah Prof. Dr. Amin Rais;
(Prestasi: Banyak yang menggelari beliau sebagai sosok Sengkuni salah satu tokoh pewayangan ahli Adu domba)

(7) Ketua Pelaksana Harian MUI/Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) KH. Ma'ruf Amien;
(Prestasi: Sukses menjadi salesman ayat² Allah melalui Produk Halal)

(8) Ketua Umum PPP Dr
(HC.) Suryadharma Ali;
(Prestasi: Pernah menjadi menteri Agama di era SBY dan sekarang mengeram di penjara karena kasus Korupsi Dana Haji dan Al-Quran)

(9) Mantan Ketua MPR/Ketua Fraksi PKS DPR RI Dr. KH. Hidayat Nurwahid;

(10) Sekjen MIUMI Ust. KH. Bachtiar Nasir Lc;(Tokoh Wahabi yang anti Pancasila dan ingin mendirikan khilafah)

(11) Raja Penyanyi Dangdut Haji Rhoma Irama;
(Prestasi: Beliau seorang Raja Dangdut yang tiada duanya)

(12) Ketua Baznas Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin;

(13) Ketua Majelis Az Zikra KH. M Arifin Ilham;(penghina Nabi Dengan menyebut Nabi tidak Adil)

(14) Ketua Darul Quran KH. Yusuf Mansur;
(Prestasi: Ahli Bisnis Multi Level Syariah, dan Amalan ayat Al-Quran yang bisa membuat kaya, mirip mirip Dimas Kanjeng lah)

(15) Jubir HTI Ir. H. Ismail Yusanto, MM.
(Prestasi: Bermimpi menegakkan Khilafah Hizbut Tahrir di Indonesia karena menganggap rakyat Indonesia kafir semua)
     
"Siapakah di antara 15 nama tokoh ulama/pejuang syariah di atas yang anda pilih menjadi Presiden dan menteri Syariah untuk mendekritkan Syariah di NKRI? Silakan ditulis (nama anda/kota tempat tinggal anda/nama presiden syariah pilihan anda) lalu kirim ke nomor HP 085791870301," pesan  Al Khaththath.  

Rizk dan Abu Bakar Baasir yang telah menjadikan ISIS sebagai model Pemerintahan Islam

"Ayo Tegakkan Syariah, Pilih Presiden dan menteri Syariah, Tegakkan NKRI Bersyariah, Allahu Akbar!!!" tutupnya.

Bagaimana? Manakah presiden Syariah yang cocok menurut Anda? Atau anda garuk garuk kepala seperti saya karena PUYENG dan bingung dengan calon presiden yang telah dipilih di atas? Ada Bos Teroris, Ada Koruptor Al-Quran dan Haji, Ada Bos Anarkis, Ada Penyanyi.. Lengkap pokoknya.

Aaasu dahlah...!!

Sumber: SI online
Editor: Manhaj Salafi

Rabu, 26 Oktober 2016

SASARAN SESUNGGUHNYA ADALAH INDONESIA

Demo Anti Ahok Adalah pembeda mana kelompok Pembenci Pancasila dan Kelompok yang mendukung Pancasila, Beruntung PBNU telah melarang warganya untuk ikut demo Anti Ahok hal ini semakin membuktikan NU siap menjaga Pancasila dari rong2an antek antek Khilafah gaya ISIS. Secara FPI kan mendukung ISIS..

Coba perhatikan. Para penggerak demo anti Ahok, adalah mereka yang selama ini mengatakan Pancasila sistem kafir, NKRI negara toghout, berniat tegakkan khilafah, sampai mengharamkan upacara bendera.

Ahok adalah sasaran antara. Sasaran sesungguhnya adalah Indonesia. Ya, Indonesia. Sebab mereka bukan hanya membenci Ahok. Mereka membenci Indonesia.

Sebetulnya mereka membenci siapa saja yang berbeda pendapat dengannya. Saat berbeda pendapat, mereka menyerang musuhnya dengan tudingan kafir, sesat, dan penistaan lainnya. Seolah mereka mendominasi kebenaran dan berlindung di balik slogan agama untuk menyembunyikan kepentingannya.

Tidak terhitung berapa banyak ulama yang dituding Syiah, hanya karena mempromosikan pentingnya persatuan antarmazhab. Berapa banyak saudara seagamanya yang dikafirkan, belum lagi mereka membenci pengikut Budha yang ada di Indonesia ketika berbicara Myanmar, China, Kristen, Hindu dan masih banyak lagi korban pelecehan keimanan baik yang seagama apalagi beda agama.

Ini Indonesia, yang sebagian besar penduduknya umat muslim, dan mayoritas adalah muslim toleran pengikut NU dan Muhamadiyah. Sejak puluhan tahun kita hidup dalam suasana beragama yang teduh dan nyaman.

Dengan pembangunan yang gila-gilaan sekarang ini, berbagai analis dunia meramalkan Indonesia akan jadi kekuatan ekonomi baru. Jika jalan itu tercapai, negara yang sebagian besar penduduknya penganut Islam toleran ini akan menjadi contoh bahwa beginilah cara beragama yang benar. Beginilah kehidupan umat Islam yang baik, berdampingan dengan umat beragama lain, diikat dalam bingkai NKRI.

Jadi mereka takut, jika Islam toleran ala Indonesia nanti menunjukan keberhasilannya. Mereka tidak ikhlas, jika umat Islam ternyata juga umat yang sangat demokratis dan menjunjung nilai kemanusiaan. Mereka tidak ingin wajah Islam terlihat manis di mata dunia, dengan pencapaian ekonomi, rakyat yang lebih sejahtera dan sistem yang berkeadilan. Mereka tidak rela itu terjadi.

Menurut mereka wajah Islam tidak mungkin seramah itu. Baginya Islam tidak jauh dari pedang, asap mesiu, teriakan jihad yang salah kaprah dan umpatan.
Saat ini, kebetulan mereka mendapat angin segar untuk membakar emosi publik, lewat kontroversi statemen Ahok.

Momentum itulah yang terus dimanfaatkan untuk menapaki target-target politiknya. Lihat saja, teriakannya mulai bergeser. Awalnya menghantam Ahok, kini malah mau melengserkan Jokowi.

Apalagi ajakan demo itu kini berubah menjadi seruan jihad. Bayangkan. Mereka meminta peserta untuk membuat surat wasiat kepada keluarganya. Seperti mau mati di medan perang sungguhan. Apa targetnya?

Jadi, sekali lagi, Ahok itu cuma sasaran antara. Sasaran sesungguhnya adalah Indonesia. Ya, Indonesia yang sama-sama kita cintai...

Penulis: Eko Kuntadi
Editor: Manhaj Salafi

Minggu, 23 Oktober 2016

Srikandi Gerindra yang mengatakan Prabowo titisan Allah SWT, 
Ini di Agama ISLAM merupakan penghinaan, Nabi Muhammad saww manusia sempurna saja umatnya tidak bilang Titisan Allah, dalam agama Kristen pun juga penghinaan, Karena menurut keyakinan Kristen titisan Tuhan adalah Nabi Isa as(Yesus)... Lha kok ini Prabowo ???
Catatan: "Orang yang tidak Adil tidak bisa mengadili"

Sungguh mengherankan melihat sikap FPI dan MUI juga kelompok ISLAM garis keras lainnya yang sangat reaktif kepada Ahok yang karena penafsirannya yang dianggap 'menghina' Al-Quran sehingga di demo sampai ribuan orang setiap Minggu. Sementara mereka tidak melakukan hal yang sama ketika Allah SWT dihina oleh salah satu kader partai Gerindra yang sekarang menjabat sebagai ketua umum DPN Srikandi Gerindra yang bernama DR. Nurcahya Tandang.

Wanita yang saat berorasi menghina Allah dengan mengatakan bahwa Prabowo sebagai titisan Allah SWT merupakan
Lulusan S3 Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) tercatat sebagai dosen Intelijen Negara di Badan Intelijen Negara (BIN) selama lima tahun pada januari 2007 hingga Mei 2012. Selain itu, wanita yang juga aktif sebagai penulis ini juga pernah menjadi dosen hubungan internasional dan politik Universitas Hasanudin,Makassar.

Dalam orasinya Nurcahya mengatakan,
"Kita tidak hanya mendukung Bapak Prabowo tetapi visi besar Bapak Prabowo sebagai titisan Allah SWT."

Lihat videonya:


Nah kurang mentereng apa coba gelar dan jabatan Nurcahya? Tapi, mana reaksi kalian atas penghinaan ini? Apakah karena kalian merasa satu barisan dengan Gerindra dan PKS yang selalu tidak puas dengan apapun yang dilakukan pemerintah?

Wanita ini sudah benar-benar Salah dan nyata-nyata menistakan Allah SWT, tapi kalian Diam dan tidak ada suara agar Polisi menangkap wanita ini atau agar Prabowo dan partai Gerindra mengadili wanita ini, Harusnya kalian juga berteriak bubarkan Partai Gerindra karena telah berani melindungi orang yang menghina Allah. Mana suara kalian hai para laskar FPI, MIUMI, FUI, MUI , JAT, MMI, dll??

Sebenarnya kalian tidak ingin bersama-sama membangun bangsa ini, Kalian hanya ingin melihat bangsa ini jatuh kemudian kalian akan leluasa menindas dan menjarah aset-aset warga yang kalian anggap sesat dan kafir sebagaimana ISIS mengambil harta dan wanita sebagai budak pemuas nafsunya.

Ah.. Betapa serakah dan kotornya jiwa kalian yang menjual dan menggadaikan Agama Islam demi ambisi nafsu keserakahan kalian. Salam

Penulis: Ali Mahdi

Sabtu, 22 Oktober 2016


Mendekati hari Pemilihan Gubernur(PILGUB) Jakarta banyak sekali foto dan berita hoax yang  berkeliaran di media sosial . Rakyat  harus cerdas memilah mana berita yang merupakan FAKTA dan mana yang hanya berita HOAX alias berita palsu atau sampah. Kali ini isyu yang sedang hangat di goreng oleh haters Ahok adalah kasus  dugaan penistaan Alquran oleh Gubernur Jakarta Basuki Thajaha Purnama (Ahok), Kasus ini  di blowup sedemikian rupa oleh lawan politik Ahok untuk menjatuhkan atau menggagalkan pencalonan gubernur petahana tersebut.

Foto aksi Demo Menuntut Ahok yang diposting berulang kali dengan memberikan nama daerah yang berbeda dengan gambar yang sama agar terkesan umat islam di daerah juga melakukan aksi serupa. 

Melalui foto-foto aksi demo di beberapa daerah yang menuntut agar Ahok di adili. Tidak jarang lawan politik Ahok menampilkan foto yang sama tapi dengan tempat yang berbeda (seperti pada gambar diatas). Hal ini dilakukan semata untuk memprovokasi umat islam Indonesia agar ikut mendukung  aksi  tersebut supaya menuntut Ahok. Tapi untungnya umat Islam Indonésia cukup cerdas dan tidak terprovokasi oleh ulah segelintir kelompok intoleran yang berusaha dengan berbagai cara menginginkan terjadinya Chaos di Indonesia seperti di Suriah .

Semoga pihak yang memiliki kewenangan untuk mengatur negara ini tidak tunduk pada tekanan pihak pihak yang ingin memaksakan keinginannya atas nama agama dan keyakinan nya. Karena Indonesia bukan milik suatu golongan tertentu.

Penulis: Ali Mahdi 

Sabtu, 15 Oktober 2016

Kelompok seperti Wahabi, PKS dan Hizbut Tahrir ini menggunakan  cara-cara demokrasi yang mereka tolak untuk mewujudkan sistem otoriter yang tidak demokratis bernama Khalifah seperti ISIS 


Ideologi  Wahabi yang di wakili PKS di alam demokrasi ini sebenarnya hanyalah kedok dan jalan untuk membentuk Kekhalifahan(sistem pemerintahan yang tidak ada satupun negara di dunia ini yang mau menggunakan disebabkan sejarah nya yang berdarah ²). Jangan mengira bahwa keterlibatan mereka dalam pemilu ini adalah bentuk penerimaan terhadap sistem demokrasi, sama sekali tidak!!

Bagi mereka, sistem kepartaian, nasionalisme, atau pun demokrasi, hanyalah alat, cara yang bisa ditunggangi untuk mencapai tujuan membentuk negara berdasarkan Islam versi Wahabi yang keras dan Jumud . Mereka menunggangi demokrasi untuk merebut kekuasaan, hingga nanti berhasil membuat misi mereka terwujud; Negara Islam. Bagaimana tidak? Azas Pancasila saja mereka tolak, dianggap sebagai azas sekuler kafir, dan jika ada anggotanya yang tetap menerima Pancasila, dicap kufur (keluar dari agama) hingga murtad.

Niat PKS dengan ideologi politik yang mengadopsi Ikhwanul Muslimin ini memainkan peranan ‘sebagai sahabat ’, pada mulanya terlihat ramah terhadap Pancasila dan Indonesia, namun tujuan mereka sejalan dengan Hizbut Tahrir. Bedanya , Hizbut Tahrir terang ²an dalam mewujudkan Ambisi nya untuk segara terbentuk negara berdasar Khilafah, sementara  PKS bermain politik melalui partai lebih dulu dengan memanfaatkan sistem demokrasi yang mereka benci.
Ideologi Wahabi seperti yang dianut oleh sebagian besar kader ² nya meniscayakan formalisasi syariah Islam yang harus mereka wujudkan .

Wahabi mengasosiasikan diri sebagai kaum salaf yang mengharamkan semua bid’ah dan memahami ajaran Islam secara harfiah (peringatan Maulid, tahlilan, atau ziarah kubur diharamkan) dan menganggap yang bertentangan dengan mereka adalah kafir. Sedangkan ikhwanul muslimin bergerak di bidang politik. Karena tujuan untuk mendirikan negara Islam tak lagi dapat dilakukan seperti cara NII melalui pemberontakan, tapi dengan merebut kekuasan politik. Jadi jangan heran jika dalam tubuh PKS ada Hilmi Aminuddin, putera Danu Muhammad Hasan, salah satu pemimpin gerakan Negara Islam Indonesia, Panglima NII Jawa dan Madura.

Belajar dari kegagalan cara-cara pemberontakan itu, kalangan Wahabi ini memanfaatkan alam demokrasi untuk mendirikan parpol dan merangsek masuk ke dalam birokrasi dan pemerintahan. Mereka memaksakan aturan agama Islam secara ketat hingga melanggar hak azasi warga negara yang berbeda keyakinan. Yang lebih mendekatkan Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin adalah ketidaktundukan mereka terhadap pemerintahan negara, atas nama nasional. Mereka hanya akan tunduk pada negara dengan syariat Islam, dan setiap upaya mereka adalah untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Dalam mengembangkan sayap dan pengaruhnya, PKS melakukan infiltrasi ke berbagai ormas, lembaga pendidikan, instansi pemerintahan dan swasta. Bahkan di kampus-kampus, mereka memaksakan mentoring dan liqa’ untuk menyebarkan paham wahabi , membuat kesepakatan dengan pihak kampus, agar mahasiswa tingkat awal yang mendapatkan mata kuliah Agama Islam, diwajibkan untuk liqa’. Jika tidak mengikuti, maka ancaman nilai Agama Islam akan buruk dan mempengaruhi masa depan kelulusan karena mata kuliah wajib.

Jika ini saja bisa dilakukan oleh PKS dan kroni-kroninya di dalam kampus, maka tudingan Hashim tentang pemecatan pegawai Kristen di Kementerian Pertanian yang dipimpin oleh kader PKS, juga bukan hal sulit. Hal itu hanya bagian kecil dari potret bahaya yang menghadang Indonesia di masa depan, jika PKS telah menancapkan kuku kekuasaannya di setiap tubuh birokrasi.

Penulis: Sindikat Jogja
Editor: Ali Mahdi

Sabtu, 08 Oktober 2016

Jawaban telak Ridwan Kamil kepada Pemimpi Khilafa, Indonesia Butuh Orang-orang seperti Ridwan Kamil, Ahok, Jokowi Yang memiliki Rasa Nasionalisme yang tidak tunduk pada kelompok Wahabi yang suka teriak KOPAR KAPIR kepada orang dan kelompok Lain. Indonesia tidak butuh KHILAFAH..  




Dalam akun Twitter nya Ridwan Kamil ada salah seorang yang memprotes dan tidak setuju atas pernyataan walikota Bandung tersebut, yang mengatakan, " demokrasi bisa berbahaya pd masy yg tidak siap. Krn itu Pemimpin hrs berani lawan arus jika nalar/hukum/etika sdh benar tp masih jg diprotes".

Nampaknya cuwitan sang walikota membuat panas telinga para pemuja khilafah yang memiliki akun bernama "Muhammad Ahsan atau @ahsanbugis81" yang membalas dengan kalimat bernada Nasehat , " @ridwankamil maka dr itu, jgn ikuti demokrasi,karena bukan hukum islam, bertentangan dengan agama".

Tentu saja mention dari @ahsanbugis81 tersebut membuat pak Walikota Bandung memberikan jawaban yang cerdas dan cukup telak, " makanya tipe kamu pindah negara aja. karena negeri ini kesepakatannya adalah demokrasi. nuhun. "

Sontak para tweps yang menjadi follower Ridwan Kamil langsung mem-bully pemilik akun @ahsanbugis81 tersebut dengan kata kata yang mendukung sikap Ridwan Kamil agar segera angkat kaki dari Indonesia dan pergi ke timur tengah sana untuk gabung sama khilafah ISIS yang bengis.

Penulis: Manhaj Salafi

Jumat, 07 Oktober 2016



Perilaku jamaah 'Gedibal Onta' di media sosial terlihat amat konsisten terhadap karakter Salafisme / Wahabisme, yaitu:

1). Sensitif;

Gampang marah dan gampang tersinggung sebab mereka terlalu lugu untuk mampu membedakan antara Islam (ajarannya) VS Muslim (orangnya), dan Islam VS Arab. Menurutnya Islam identik dengan Arab, oleh sebab itu Arab tidak boleh dikritik; mengkritik (apalagi membuli) Arab sama dengan menghina Islam, sama dengan anti-Islam, sama dengan Islamophobic. Mereka kebakaran jenggot setiap kali ada yang bicara mengkritik kelakuan Muslim yang menyimpang dari ajaran Islam.

2). Offensive anarkis;

menentang gerakan-gerakan pemurtadan (Kristenisasi, Hinduisasi, dst), sementara di sisi lain mereka secara terbuka melakukan dan menyambut baik gerakan-gerakan Islamisasi. Tidak boleh Kristenisasi, tidak boleh Hinduisasi, dan seterusnya, tapi Islamisasi boleh, menurut Gedibal Onta. Ada semacam eforia setiap kali mereka mendengar kabar public figure yang menjadi mualaf, ratusan kali berita itu dishare dengan hati berbunga-bunga; sebaliknya jika murtad, ratusan kali berita itu dishare dengan penuh kebencian dan caci maki. Menurut mereka, membongkar tempat ibadah non muslim tanpa IMB itu penegakan hukum, sedangkan membongkar masjid tanpa IMB disebutnya anti Islam.

3). Anti perbedaan, berlogika bengkok, berstandar ganda;

Jika ada komunitas muslim yang minoritas di negeri orang ditindas (Rohingya dan Tiongkok misalnya), Gedibal Onta marah lantas berteriak jihad, sementara di negaranya sendiri mereka menindas kaum minoritas seperti Syiah, Ahmadiah dan umat Kristen yang Mau membangun gereja— ini standar ganda. Selain melakukan tindak kekerasan anarkis terhadap mereka pada masa rejim yang lalu, hingga kini Gedibal Onta masih rajin mengkampanyekan kebencian Anti Syiah dan Anti Ahmadiah lewat media sosial. Contoh logika bengkok mereka, dulu Gus Dur pernah meminta maaf pada PKI, menurut Gedibal Onta itu adalah bukti bahwa Gus Dur PKI atau pro PKI. Ketika Ahok melarang penggunaan Monas untuk pengajian karena akan memicu hadirnya PKL yang lantas mengganggu ketertiban umum, selain kekhawatiran bahwa peserta pengajian berperilaku tidak tertib pula: buang sampah sembarangan, menginjak-injak taman; Gedibal Onta memelintirnya menjadi "Ahok melarang umat Muslim beribadah" lalu memberinya cap anti Islam. Bukan pengajiannya yang dilarang Ahok padahal, tapi penggunaan Monasnya. Pengajian boleh, tapi jangan di Monas. Jika ada seorang Muslim shalat Dhuhur di tengah jalan tol lalu diusir petugas karenanya, apakah pengusiran itu berarti melarang Muslim beribadah? Berarti anti Islam? Dengan logika bengkoknya itu jamaah Gedibal Onta tidak mampu memahami ini, gagal paham mereka.

4). Bertolak belakang dengan ajaran Islam;

Ironisnya, Gedibal Onta berperilaku rasis, SARA, tidak respek bahkan kepada Muslim lain yang tidak sependapat dengannya, memposisikan diri seolah paling mulia, bahkan dengan menebar fitnah: menuduh Syiah, menuduh kafir, komunis, PKI, antek asing, agen Yahudi. Mereka mendirikan berbagai media online abal-abal (voa islam, arrahmah, manjanik,dll. yang semuanya pro pada teroris dan anti Pancasila) khusus untuk menebar fitnah, propaganda kebencian etnis, dan adu domba.  Bertolak belakang dengan nilai-nilai Islami, Jamaah Gedibal Onta menggunakan berbagai cara amoral ini untuk menyerang Jokowi dan Ahok, sejak masa Pilgub DKI, Pilpres, hingga sekarang.

Penulis: Eko Armunanto-Muslim Nusantara
Editor: Van Harry

Kamis, 28 April 2016


Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Eva Kusuma Sundari angkat bicara terkait maraknya aksi kekerasan oleh kelompok radikal yang menyerang gereja, warga Ahmadiyah, Syiah, dan pesantren Waria.

Selain itu, kelompok intoleran pun melakukan pelarangan beberapa festival dan acara pemutaran film, seperti Festival Belok Kiri, Monolog Tan Malaka, pemutaran film Pulau Buru, diskusi filsafat dan acara musik Lady Fast di Yogyakarta.

Menurut dia, peristiwa tersebut terjadi karena polisi telah melakukan penegakan hukum berdasarkan prasangka yang dipaksakan oleh kelompok intoleran.

Ia menyesalkan polisi sudah menjadi aparat dari kelompok intoleran daripada melaksanakan perintah undang-undang.


"Polisi sudah menjadi alat perampasan hak warga negara atas dasar prasangka kelompok intoleran yang jelas-jelas melanggar hukum," ujar Eva melalui keterangan tertulisnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, peristiwa pelarangan oleh kelompok intoleran tersebut merupakan sebuah ironi negara demokrasi yang berbasis pada supremasi sipil.

Selain itu, kepolisian dianggap melanggar perintah Presiden untuk menindak tegas kelompok intoleran yang telah bertindak di luar hukum.


"Saya meminta Kapolri mencopot aparat kepolisian yang bertanggung jawab atas insiden di Lady Fest di Yogya kemarin. Polisi harus menunjukkan kepatuhan pada Presiden dan menjadi pelindung HAM, bukan sebaliknya," ungkap dia.

Lebih lanjut, Eva juga meminta Kapolri lebih serius menata aparatnya agar lebih efektif melaksanakan perintah Presiden, mengingat tingkat Intoleransi di Indonesia begitu tinggi.

Agak mengherankan, kata Eva, menyaksikan polisi melakukan pembiaran terhadap pertemuan para penentang Pancasila, penyebar kebencian, bahkan aktivitas rekrutmen untuk ke Suriah.

Sedangkan, polisi memilih melaksanakan perintah kelompok intoleran untuk membubarkan pertemuan aktivis, seperti festival musik dan diskusi ilmiah yang jelas-jelas sudah memiliki izin kepolisian.

"Kapolri harus segera menghentikan disorientasi dan double standard dalam kepolisian ini. Intoleransi menguat karena penegakkan hukum yang lemah," ucap Eva.[kompas]


Minggu, 10 April 2016



Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyoroti aksi Yusril mengadvokasi pihak-pihak tertentu selain di Luar Batang. Misalnya, Yusril menjadi pengacara dari perusahaan pengelola Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Bantar Gebang, yakni PT Godang Tua Jaya. 

"Bantar Gebang juga kasih surat kuasa kepada Pak Yusril. Saya kan mau membatalkan, menggusur yang pemain sampah di Bantar Gebang.  Ahok menerima surat terkait permasalahan TPST Bantar Gebang itu. Namun Ahok tetap bersikukuh memberi Surat Peringatan dan evaluasi.

"Bu Susi (Pudjiastuti Menteri Kelautan dan Perikanan) juga menangkap kapal ikan asing. Pak Yusril juga membela agar tidak boleh tangkap (itu kapal asing)," kata Ahok menyebut rekam jejak Yusril yang lain.
"Jadi kamu bayangin saja siapa Pak Yusril. Pusing amat," ujar Ahok.


Ahok juga menyindir langkah Yusril yang dianggapnya ngaco membela kampung luar batang.
"Makanya kalau jadi pengacara tuh  baca!! Jangan cuma tampil di TV saja. yang mau saya gusur itu yang diatas laut. Memangnya dilaut ada sertifikat? Sertifikat Mbah lu apa sertifikat mbah mu!!"Ketus Ahok. (detik.com)

Simak Videonya : Sertifikat Mbah Lu! 


Sabtu, 30 Januari 2016

Oleh: Ali Valentino

Akun resmi tweet KMP telah tiga kali membuat polling mengenai pemilihan Gubernur DKI, dan ketiganya dimenangi oleh Koh Ahok. Dengan persantase yang terus meningkat. Dipolling terakhir Koh Ahok mendapatkan suara 89%. Menanggapi fenomena ini ada nitizen iseng membuat polling betulan, tapi tanpa menyertakan Koh Ahok dan kira-kira apa yang dilakukan warga Jakarta.


>> Ma'af bila polling ini sungguh teramat pedih dan begitu menyakitkan pemirsa.. Lhoo Nur Mahmudi (PKS) Koq?? Tolong jangan tertawa.. Pleasee.. Kasian Jonru... Sakitnya tuch di "nganu"..

Dan ini adalah hasil Polling yang dilakukan oleh akun Twitter resmi Milik KMP si Garuda merah.

POLLING PERTAMA 

POLLING KE DUA

TERNYATA KMP SUDAH MEMBUAT SURVEY 4 KALI DAN TETAP SAJA AHOK JUARANYA

Tag : #Polling Gubernur DKI, #KMP, #Jonru, #Ahok

Senin, 25 Januari 2016


Fitnah yang sangat masif kepada Jokowi saat Pilpres Tahun lalu yang dilakukan oleh Kader PKS

Kita mungkin merasa aneh melihat  kebencian luar biasa yang ditunjukan kader PKS terhadap sosok Jokowi. Bagaimana dengan mudahnya mereka menggadaikan akhlak mulia yang sudah dibangun oleh para perintis Partai Keadilan hingga menjadi Partai Keadilan Sejahtera saat ini.

Berbagai fitnah mereka tembakkan kepada Jokowi tanpa menghiraukan logika... Dan pengaruhnya ternyata cukup signifikan, jutaan umat Islam di luar PKS turut memakan fitnahan tersebut sehingga Jokowi dapat dikalahkan di kantung-kantung PKS seperti Jawa Barat dan Sumatera Utara. Apa yang mereka lakukan ini pada dasarnya memang menyumbang suara bagi Prabowo, tapi jelas-jelas menghilangkan simpati dari umat Islam rasional dan kalangan non muslim yang merasa keyakinannya dipojokkan.

Tapi mari mengulas penyebab kebencian PKS terhadap Jokowi... Beginilah awal mulanya... Pada tahun 2010 yang lampau, PKS sebenarnya telah menjadi salah satu gerbong pendukung Jokowi + Fx. Rudi pada pemilihan walikota Solo. Bahkan Hidayat Nur Wahid aktif menjadi juru kampanye untuk pasangan tersebut.

Jokowi-Hadi pun berhasil meraih 90,09 persen suara, mengalahkan pasangan Eddy S Wirabhumi-Supradi Kertamenawi yang diusung Partai Demokrat dan Partai Golkar. Pertanyaanya sekarang, apakah saat itu PKS tidak sadar kalau mereka telah mendukung FX. Rudi yang kristen ? Apakah PKS tidak sadar telah mendukung Jokowi yang antek zionis seperti sering dituduhkan akhir-akhir ini ? Mari kita berbaik sangka saja, mungkin PKS mendukung Jokowi karena sang petahana berhasil memperbaiki kualitas kehidupan warga Solo dalam periode pertama kepemimpinannya.

Kemudian tibalah event pilgub DKI Jakarta pada tahun 2012. Perlu diingat bahwa ketika pilgub terjadi, posisi PKS masih di atas angin. Mereka belum tersangkut kasus korupsi dan relatif masih dipercaya oleh masyarakat.

Salah satu pertaruhannya adalah dengan mengajukan calon sendiri dalam pilgub tersebut, mereka mengajukan pasangan Hidayat Nur Wahid - Didik Rachbini  untuk menghadapi Jokowi-Ahok. PKS sangat percaya diri memenangkan pilgub tersebut mengingat DKI dianggap sebagai basis mereka  dan sempat hampir mengalahkan Foke dalam pilgub sebelumnya.

Untuk menghadapi pilgub ini, PKS tidak main-main... Mereka mengajukan HNW, tokoh yang diproyeksikan untuk dicalonkan sebagai Presiden dalam pemilu 2014. Pengajuan ini merupakan pertaruhan besar karena tokoh yang sebelumnya digadang, Bang Sani, terpaksa dikandaskan.

PKS sebenarnya sudah memiliki rencana jangka panjang, dengan HNW sebagai gubernur DKI, maka jalan untuk memenangkan pemilu akan semakin mulus, apalagi dengan sokongan Jabar dan daerah lainnya. Apabila HNW berhasil memenangkan pilgub DKI, ada kemungkinan besar ia akan disokong sebagai Capres dalam pemilu, tanpa mempertimbangkan janji jabatannya.

Sayangnya niat PKS saat itu dihadang oleh Jokowi yang dulu pernah didukungnya.  PKS yang masih percaya diri  memenangkan pilgub saat itu tidak terlalu agresif menyerang Jokowi, mereka masih percaya diri bahwa sosok HNW yang mantan ketua MPR masih lebih bonafide dibandingkan calon-calon lainnya, apalagi Jokowi. Walau demikian mereka cukup memahami bahwa tokoh Jokowi masih memiliki potensi berbahaya, beberapa serangan pun ditembakan. Salah satunya tuduhkan kalau Jokowi tidak amanah karena melanggar janji memimpin Solo.

Tuduhan terhadap Jokowi tampak janggal  karena pada awalnya PKS juga berniat mendukung Jokowi dengan memasangkannya dengan Bang Sani (Triwisaksana), namun Megawati menolak usul tersebut. Jokowi sendiri menolak dipasangkan dengan kader PKS karena adanya "mahar" yang harus dipenuhinya.

 http://metro.news.viva.co.id/news/read/297870-aboe-bakar-pks--megawati-tolak-jokowi-sani

Hasil pilgub putaran pertama ternyata kurang menggembirakan. PKS sangat terkejut dengan hasil yang mereka peroleh. Seorang mantan ketua MPR dan tokoh terbaik mereka hanya mendapat sekitar 12 % suara. Jauh dari pasangan Jokowi-Ahok yang mencapai 42%.  Hal ini disebabkan karena warga kota tidak terlalu familiar dengan tokoh HNW. PKS menyadari hal itu sehingga mereka mendorong HNW untuk turun langsung ke lapangan, meniru aksi blusukan Jokowi... Upaya ini tidak berhasil...

Hidayat Nur Wahid Mencoba meniru gaya blusukan Jokowi 

Pada putaran kedua, PKS memutuskan untuk mendukung Foke. Menurut kabar yang beredar, hal ini diputuskan setelah permintaan mahar mereka ditolak oleh kubu Jokowi-Ahok. Sejak inilah benih kebencian PKS terhadap Jokowi memuncak, mereka menganggap Jokowi sebagai orang sombong yang tidak menghargai kebesaran PKS. Berbagai serangan membabi buta untuk memuluskan Foke menjadi gubernur pun mulai dilancarkan, salah satunya dengan mengangkat isu SARA.

Kemenangan Jokowi-Ahok dalam pilgub putaran kedua (Foke langsung mengakui kekalahannya setelah melihat hasil Quick Count) semakin memanaskan emosi PKS. Kader-kader tetap dikondisikan untuk merongrong pemerintahan Jokowi-Ahok baik lewat pemerintahan (DPRD) maupun media hingga kepentingan mereka diakomodir. Untungnya Jokowi-Ahok tidak bergeming.

Sejauh ini kita sudah bisa mendapatkan beberapa penyebab kebencian PKS terhadap Jokowi, yaitu :


  • 1. Jokowi menghalangi niat PKS untuk menguasai Jakarta dan Indonesia

  • 2. Jokowi tidak menanggapi permintaan mahar dari PKS


Menjelang Pilpres 2014  terjadi peristiwa penting yaitu ditangkapnya LHI oleh KPK terkait kasus korupsi daging. Peristiwa ini sangat mempengaruhi pandangan masyarakat terhadap PKS sehingga partai itu seringkali diidentikan dengan "sapi". Berbeda dengan sikap partai-partai lainnya yang seringkali tidak melawan tindakan KPK, PKS secara lantang menuduh terjadinya konspirasi di balik tindakan tersebut.

Hingga saat ini, tokoh PKS seperti Fahri Hamzah terus menyuarakan pelemahan atau pembubaran KPK yang dianggapnya telah mencoreng nama baik PKS. Fahri mungkin lupa kalau lebih banyak masyarakat yang bersimpati terhadap KPK daripada PKS. Akibatnya kepercayaan masyarakat terhadap PKS semakin melemah. Simpatisan non kader yang tadinya mempercayai kebersihan PKS mulai merasa ragu dan mencari tokoh lain yang dianggap bersih. Pemilu 2014 menjadi hakim bagi PKS.

Partai ini hanya mendapatkan 8.480.204 suara atau 6,79%  secara nasional.  Jumlah ini tentunya sangat kecil dilihat dari kiprah PKS yang telah berdiri sejak 1998 atau dibandingkan misalnya Partai Nasdem yang baru berdiri dan sanggup meraih 8.402.812 suara. Perolehan suara PKS bisa jadi merupakan suara kader murni. Pimpinan PKS lagi-lagi terkejut atas hasil ini karena target mereka adalah meraih 3 besar.

Mereka pun menyalahkan KPK yang dianggapnya telah merusak nama baik PKS dan menghilangkan suara simpatisan. Mereka tidak sadar kalau penyebab kekalahan tersebut lebih banyak berasal dari masalah internalnya. Berikut adalah beberapa penyebab kekalahan tersebut :

1. Aksi-aksi tidak simpatik tokoh PKS seperti Fahri Hamzah yang kerap menyuarakan pembubaran KPK menghilangkan suara masyarakat yang menaruh kepercayaan pada KPK. Mereka lupa bahwa masyarakat lebih menyoroti keburukan tokoh politik daripada kebaikannya. Segala prestasi dan kredibilitas yang dibangun oleh kader-kader terbaik PKS tertutupi oleh aksi-aksi seorang Fahri Hamzah. Kejadian ini terulang kembali ketika pilpres.

2. PKS tidak memiliki tokoh yang bisa dijual kepada masyarakat. Pasca ditahannya LHI, otomatis PKS tidak memiliki banyak pilihan untuk bisa diajukan sebagai Presiden. Sebenarnya setelah kekalahan HNW dalam pilgub, PKS lebih realistis dengan hanya mengajukan cawapres. Mereka pun mengajukan tiga tokoh capres dalam PEMIRA yaitu Aher, HNW dan Anis Matta. Ketiga tokoh tersebut memiliki kekuarangan masing-masing. Aher belum dikenal secara nasional, HNW terbukti kalah dalam pilgub (apalagi pilpres), sedangkan Anis Matta tidak memiliki keunggulan apa-apa dibandingkan capres lainnya. Realistis atas keadaan tersebut, para capres hasil pemira melakukan manuvernya masing-masing dengan mendekati capres-capres yang populer. HNW dan Anis Matta tidak terlalu dilirik karena dianggap tidak bonafide. Satu-satunya yang berpeluang adalah Aher, namun melihat perolehan partainya yang kecil ia menurunkan targetnya menjadi cawapres. Aher pun mendekati baik Jokowi maupun Prabowo.

Kader PKS Ahmad Heriawan mencoba peruntungan dengan mendekati Jokowi 

Upaya Aher untuk mendekati Jokowi ternyata terhalang oleh kondisi eksternal dan internal. Jokowi maupun kalangan di sekitarnya menolak Aher karena tokoh no.1 di Jawa Barat tersebut berpotensi terkait korupsi, selain itu permintaan mahar dan menteri tentunya tidak akan diakomodir Jokowi. Di kalangan internal PKS sendiri, Fahri Hamzah dan kawan-kawan sudah kadung menghina Jokowi sehingga keputusan merapat dengan Jokowi akan merusak kepercayaan kader terhadap pimpinan partai.

Keputusan partai akhirnya mengalihkan dukungan secara total kepada Prabowo. Prabowo sangat tertolong berkat masuknya PKS dalam barisan mereka. Tapi tentunya tidak ada yang gratis, PKS memilik mesin yang cukup baik untuk menggerakan massa dan melakukan propaganda, Prabowo mau tidak mau harus mensuplai "bahan bakar" untuk mesin tersebut. Prabowo pada awalnya ingin dipasangkan dengan Aher karena menurutnya suara warga Jabar akan sangat menolong kemenangannya. Tapi sayangnya di detik akhir Hatta Rajasa masuk dengan membawa "mahar" yang lebih besar daripada hanya sekadar janji "suara warga Jabar".

PKS sempat kecewa atas keputusan Prabowo tapi mereka tidak punya pilihan lain kecuali all out mendukung Prabowo.. Toh mereka sudah menerima "bahan bakar" untuk menjalankan mesinnya. Pasukan PKS ternyata terbilang sangat militan dibandingkan pendukung Prabowo sendiri. Hal ini bisa dipahami karena pimpinan PKS mendoktrin para kadernya untuk memandang pilpres sebagai pertarungan hitam - putih.

Prabowo di satu sisi merupakan harapan umat Islam melawan Jokowi yang mewakili "asing, non muslim, dan freemasonry". Mereka lupa kalau Prabowo didukung oleh orang Kristen yang dipimpin adiknya, mereka lupa kalau keluarga Prabowo adalah non muslim, mereka juga lupa kalau Prabowo bukanlah seorang muslim yang taat. Pokoknya Sami'na watha'na,  perintah pemimpin partai adalah sabda yang harus dipenuhi.

Fitnah pun mengalir dengan derasnya karena para Kader tidak mampu menemukan kesalahan nyata pada Jokowi. Fitnah paling kejam adalah dengan menuduh keluarga Jokowi kafir. Beberapa kali situs propaganda PKS (pkspiyungan) menyuarakan hal ini, yang kemudian disebarkan secara membabi buta oleh para kadernya. Uniknya, seringkali fitnah-fitnah ini tidak konsisten. Satu saat mereka menuduh Jokowi sebagai antek Amerika, di lain waktu Jokowi sebagai antek komunis.

Seorang yang berpikiran sehat tentunya merasa bingung bagaimana seorang antek Kapitalis bisa menjadi antek komunis di waktu yang sama. Tapi begitulah fitnah... Fitnah tidak perlu sejalan dengan logika, fitnah ditujukan untuk meraih simpati 0rang-0rang yang tidak berpikir...

Para pimpinan PKS diam saja menangggapi penyebaran fitnah oleh kader-kadernya. Mereka tidak peduli kalau tindakan ini justru merugikan Prabowo yang sebelumnya memiliki nama baik dan cenderung tidak suka menyerang secara membabi buta. Apabila kita perhatikan, isu yang diangkat Gerindra untuk menyerang Jokowi biasanya berkutat soal pelanggaran amanah, pelanggaran perjanjian batu tulis, dan antek Megawati.

PKS di lain pihak mengangkat isu yang lebih liar seperti Jokowi kafir, ibadahnya palsu, menteri agama Syiah, dan lain-lain. Berbagai upaya penipuan lewat media maya pun dilakukan, foto-foto artis dan Jokowi dipalsukan dengan photoshop. Kemampuan ini hanya dilakukan oleh kader PKS karena Gerindra tidak memiliki kemampuan soal itu. Untungnya segala kepalsuan tersebut dengan mudahnya dipatahkan oleh simpatisan Jokowi yang katanya "bodoh-bodoh" itu.

Upaya PKS ini terbukti merusak perolehan suara Prabowo karena kalangan pemilih rasional, minoritas, non muslim, dan santri yang merasa dihina Fahri Hamzah mengalihkan dukungan kepada Jokowi.  Pemilih jenis ini berjumlah puluhan juta, tidak sebanding dengan 8 juta suara yang disumbangkan PKS kepada Prabowo.

Puncak kekesalan PKS kepada Jokowi dengan menyebut Jokowi sinting yang dikatakan oleh Fahri Hamzah 

Selain menyebar fitnah, PKS juga berusaha terus meraih kepercayaan Prabowo untuk mempertahankan posisi tawarnya. PKS memberikan hasil-hasil survey yang menggembirakan Prabowo walaupun pada kenyataannya survey tersebut fiktif. Secara tidak langsung, PKS telah menjerumuskan Prabowo dalam suatu kenyataan palsu.

Ujung-ujungnya ketika mereka memberika hasil real count abal-abal kepada Prabowo yang dijadikan dasar bagi Prabowo untuk mengundurkan diri dari rekapitulasi. Prabowo menuduh terjadinya kecurangan secara sistematis padahal seluruh saksi yang katanya berasal dari PKS sudah menandatangani berita acara di tingkat TPS. Aksi PKS telah merusak nama baik Prabowo Kemenangan Jokowi tentunya merupakan mimpi buruk bagi kader PKS. Mereka yang telah berjibaku secara ikhlas (berbeda dengan pendukung Prabowo lainnya yang dimobilisasi) merasa dikalahkan oleh orang "kafir".

Kenyataan ini mengganggu keimanan mereka karena selama ini mereka percaya Tuhan selalu berada di pihaknya. Akibatnya hingga sekarang masih banyak kita temukan kader PKS yang menyuarakan sumpah serapah terhadap Jokowi. Mereka lupa kalau PKS merupakan bagian dari sistem demokrasi dan harus menerima segala keputusan yang dihasilkan sistem itu.

Di tingkat elite, kemenangan Jokowi akan menyulitkan pembiayaan mesin partai. Tanpa menteri di pemerintahan, kas PKS akan berkurang. Mereka tidak bisa selamanya bergantung kepada kepala daerah karena KPK selalu mengawasi. Akhirnya salah satu cara yang akan dijalankan adalah menyandera pemerintahan Jokowi lewat satu-satunya jalur yang masih mereka miliki : legislatif.

Menurut prediksi saya, PKS akan terus merongrong pemerintahan Jokowi hingga kepentingan mereka diakomodir. Selama itu pula mereka akan mendekati Prabowo yang bisa menjadi ATM sementara buat mereka... Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit pencerahan terhadap situasi yang terjadi. [Sint Jan/kompasiana]

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video




VIDEO Terbaru

Random Post

↑ pks