Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2016


Para 'ulama' dan umat muslim yang menuduh Ahok telah melakukan penistaan dan penghinaan terhadap agama islam merupakan sikap yang Arogan, tidak adil dan sikap ke kanak2an yang ingin menang sendiri.

"Sebenarnya apa yang dilakukan Ahok yang mengutip kitab suci Alquran dengan mengatakan dibodohi pakai ayat 51 surat al-Maidah tidak berbeda jauh dengan sikap DR Zakir Naik yang mengutip ayat-ayat dalam kitab Injil yang disucikan oleh umat Kristen. Zakir Naik adalah seorang Islam idola banyak 'orang Islam' yang suka dengan mencari-cari kelemahan dan kesalahan  penganut keyakinan orang lain. Kemana-mana yang dibacanya ayat² Injil, Weda dan Taurat. Luar biasa!"

Lihat Juga: 
Video Kedatangan Ahok di Sambut Takbir dan Sholawat

Terus apakah kita akan berpikir bahwa apa yang dikatakan Zakir Naik bukan penistaan Agama karena dianggap mengatakan sesuatu yang benar? dan apa yang di katakan Ahok tentang ayat Al-Quran kemudian kita katakan sebagai penistaan agama dan pasti salah?
Kalo begitu cara berpikir kita lantas apa bedanya kita dengan Anak-anak yang memaksakan kehendaknya agar memiliki makanan yang sama dengan teman sepermainan nya??

Padahal apa yang diperbuat Zakir Naik itu kemudian ditiru oleh orang-orang Islam yang awam ilmu agama!"
Sehingga kemudian terjadilah penyesatan, penghinaan bahkan pengkafiran terhadap keyakinan yang berbeda.

Ada kata-kata bagus yang saya kutip dari FB salah seorang teman, begini.

"Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan. Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda. Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda. Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda. Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda. Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda. Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda."
Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan mu??

Penulis: Jenar Tamer

Senin, 08 Agustus 2016


Oleh: Denny Siregar

Melihat foto Freddy Budiman, Gembong narkoba yang sudah diputus akan di hukum mati setelah PK-nya ditolak, ada yang menggelitik di hati saya dan mengundang senyum sejak dulu.

Entah darimana dongeng bahwa jidat hitam itu pertanda sujud shalatnya kusyu' dan diasosiasi-kan bahwa dia sudah Islami. Mungkin dongeng yang setua usianya dengan hadis palsu bahwa bercinta di malam Jumat sama saja dengan membunuh 10 ribu Yahudi.

Lucunya, banyak banget yg mengaku beragama Islam percaya. Mereka hanya berpatokan pada "katanya". Ironis juga, sibuk berteriak supaya berpatokan pada Quran dan Hadis, tapi ternyata "katanya" juga jadi patokan.

Jika mau sedikit saja berusaha mencari referensi dengan benar, maka bisa didapat riwayat2 yang berkata, bahwa tanda hitam di dahi itu adalah riya' atau suka pamer ibadah.

Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ibnu Umar marah ketika ada seorang yang mengaku anak asuhnya datang dan di dahinya ada tanda hitam. " Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bersahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?”

Seorang teman pernah menyodorkan ayat Alquran kepadaku, "Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al-Fath:29).

Dan aku tertawa dengan penafsirannya tentang itu. Seandainya mereka mau membaca tafsir Ibn Tabhari bahwa yang dimaksud dgn tanda2 itu adalah "perilaku baik" yang terpancar pada wajah dan tindakan.

Nabi Muhammad Saw saja, dalam satu riwayat terlihat marah melihat kenyataan itu. “Sesungguhnya aku sangat marah dan sangat tidak menyukai jika aku melihat seorang lelaki yang diantara kedua matanya ada tanda bekas sujudnya.”

Jadi temanku yang jidatnya menghitam sampe balak enam, jadikanlah Islam bukan sebagai aksesoris dengan jidat hitam, celana cingkrang, baju gamis karena sesungguhnya iblis pun mampu melakukan itu. Islam itu berarti ketaatan pada Tuhan dan menjadikan Nabi Muhammad Saw sebagai tuntunan, bukan jubah kebesaran.

Dan tahukah anda bahwa "pria berjidat hitam" pertama kali terlihat pada masa Nabi Muhammad Saw

"Akan kuceritakan kepada kalian suatu hadits yang didengar sendiri oleh kedua telingaku dan dilihat oleh kedua mataku.
Sejumlah uang dinar diserahkan kepada Rasulullah lalu beliau membaginya. Ada seorang yang plontos kepalanya dan ada "hitam-hitam bekas sujud di antara kedua matanya". Dia mengenakan dua lembar kain berwarna putih.
Dia mendatangi Nabi dari arah sebelah kanan dengan harapan agar Nabi memberikan dinar kepadanya namun beliau tidak memberinya. Dia lantas berkata, “Hai Muhammad hari ini engkau tidak membagi dengan adil”.

Mendengar ucapannya, Nabi marah besar. Beliau bersabda, “Demi Allah, setelah aku meninggal dunia kalian tidak akan menemukan orang yang lebih adil dibandingkan diriku.."

Lalu Nabi Muhammad Saw pun bersabda,
“Akan keluar dari arah timur orang-orang yang seperti itu penampilan mereka. Dia adalah bagian dari mereka, membaca al Qur’an namun al Qur’an tidaklah melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat dari agama sebagaimana anak panah melesat dari binatang sasarannya setelah menembusnya kemudian mereka tidak akan kembali kepada agama. Ciri khas mereka adalah plontos kepala. Mereka akan selalu muncul” ( HR Ahmad bin Hanbal )

Masak sih kalian termasuk orang yang dikatakan Nabi ? Pasti tidak mau, kan ?

Nah sini seruput kopi dulu biar gak deg2an.. Gak perlu pake digeser di karpet, dijedotin tembok, di tatah sampe jidatnya gosong menghitam. Islam hanya menuntut hatimu yang bersih dan toleran.

"Janganlah engkau mencaci iblis di depan orang banyak tetapi berkawan dengannya di keheningan.. " Imam Ali as.

Selasa, 02 Agustus 2016


Menciptakan, lalu Memuja Simbol

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Apa hukumnya azan memakai speaker? Mubah saja. Tidak lebih dari itu. Tidak ada anjuran khusus agar orang memakainya.

Azan memakai speaker dilakukan dengan pertimbangan agar lebih banyak orang mendengarnya.

Apakah kalau lebih banyak yang mendengar akan lebih banyak yang salat?

Tidak juga. Tidak significant. Orang yang memang berniat salat (berjamaah) akan hadir di mesjid sebelum azan berkumandang.

Perlukah salat memakai speaker sampai suara bacaan terdengar hingga ke luar mesjid? Tidak.

Tidak pernah ada ajaran nabi yang menganjurkan seperti itu. Untuk mesjid berukuran besar yang diperlukan hanyalah speaker di dalam ruangan untuk memastikan agar semua jamaah mendengar bacaan imam. Speaker yang mengumandangkan suara keluar hingga jauh tidak diperlukan.

Dalam hal doa dan zikir malah ada larangan untuk mengeraskan suara. "Kau tidak menyeru kepada Zat yang tuli. Maka pelankanlah suaramu."

Adakah ajaran untuk melakukan takbir keliling? Tidak. Yang disunnahkan adalah membaca takbir pada malam sebelum hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, ditambah hari-hari tasyrik. Bagaimana caranya? Sama seperti wirid sehabis salat.

Takbir keliling adalah kegiatan yang diciptakan kemudian. Ia bukan syariat Islam, melainkan sekedar sebuah kebiasaan belaka, seperti lomba lari karung 17 Agustus. Azan dengan speaker juga begitu.

Apa yang terjadi kalau azan pakai speaker dilarang? Atau, kalau takbir keliling dilarang? Orang Islam marah. Katanya itu melarang peribadatan. Padahal azan dan memakai speaker itu 2 hal yang berbeda. Demikian pula dengan takbir dan keliling. Azan dan takbir, itu syariat Islam. Melarang orang melakukannya berarti melarang orang beibadah. Adapun memakai speaker dan keliling tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah. Jadi kalau mau dilarang, boleh saja.

Di Arab Saudi hanya mesjid tertentu yang dibolehkan memakai speaker untuk azan. Penggunaan speaker luar untuk menyiarkan bacaan salat juga dilarang. Hal yang sama diterapkan juga di beberapa bagian di Mesir dan Pakistan.

Setahu saya di Saudi juga tidak ada takbir keliling.
Kalau orang marah ketika azan dengan speaker dilarang, apakah ini soal ajaran Islam? Tidak. Ini justru sebaliknya, soal kebodohan tentang ajaran Islam. Orang-orang bodoh yang tak paham dengan ajaran Islam, memuja simbol-simbol buatan, yang mereka kira ajaran Islam.

Tentu juga tak ada yang berniat melarang azan pakai speaker. Hanya diperlukan sikap tenggang rasa agar hal ini tidak menimbulkan gangguan. Tapi tenggang rasa itu menjadi sangat mahal. Karena ajaran Islam?

Bukan. Karena ego sejumlah orang bodoh yang tidak kenal ajaran Islam.

Senin, 01 Agustus 2016




KAU BER-ISLAM, TAPI KAU KEHILANGAN MUHAMMAD

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin

Bang apakah ibu-ibu Tionghoa itu salah karena meminta suara azan dari toa masjid dikecilkan?

Sejauh ini yang saya lihat dia salah. Mungkin dia lagi stres, atau anaknya sedang sakit, atau apalah kita tidak tahu. Yang jelas dia memang "nekad" mengusik hal sensitif, dan dia salah.

Lalu apakah tanggapan ormas islam yang mengamuk, melempari rumah ibu itu, dan membakar vihara sudah benar?

Itu jelas JAUH LEBIH STRES lagi. Hanya karena tingkah seorang ibu berusia 46 tahun, lalu kalian para pria yang mengaku muslim langsung berubah menjadi preman pasar. Ibu itu hanya sendiri dan ia tidak membawa pasukan seorangpun. Kalau anda mau marah, ya laporkan ke RT/Lurah setempat dan minta ibu itu dinasehati. Bukannya mengamuk dan membakar 10 vihara seperti preman.

Lho tapi kan ibu itu duluan yang mulai?

So what kalau dia yang mulai? Apa itu jadi alasan pembenaran bagimu untuk melakukan pembalasan yang jauh lebih sadis? 

Anda muslim kan? Sejak kapan jadi muslim mengajarkan anda membalas kezaliman dengan kezaliman yang lebih parah. Bahkan dalam Qur'an Allah mengajarkan kita dalam menghadapi perbuatan buruk orang lain "ldfa' billati hiya ahsanus sayyiata" >> “Balaslah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik."

Bahkan jika emosi anda sudah di ubun-ubun hingga anda tak kuasa untuk tak membalas, maka Allah membatasi boleh membalas asal proporsional sesuai dengan kezaliman yang ditimpakannya padamu, "Wajaza’u sayyiatin sayyiatun mistluha" >> balasan keburukan adalah keburukan YANG SERUPA, tidak melampaui sedikitpun. Karena membalas dengan cara yang lebih sadis adalah kezaliman. Dan Allah membenci orang-orang yang zalim.

Terus umat islam harus diam saja dengan tingkah ibu tersebut?

Beragama tidak berarti memendekkan sumbu. Panjangkan sumbumu sedikit agar pikiran yang lebih proporsional bisa masuk! Kau sebut islam agama Rahmatan lil 'Alamin, tapi baru disenggol sedikit oleh ibu-ibu tua sumbumu sudah meledak. Kau sebut umat islam adalah umat yang kuat, tapi dari kelakuanmu kemarin kau hanya menunjukkan islam agama yang kuat di otot, tapi tidak di kedewasaan berpikir. Kau sebut islam agama berkelas, tapi kau melayani protes seorang ibu tua hingga ramai-ramai membakar tempat ibadahnya. Tidak usah lah dulu bicara islam, tanya dirimu sendiri apakah sikap seperti itu jantan?

Terus apa saranmu bang?

Jangan lemahkan islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu. Jangan hinakan islam yang suci dengan perbuatan nista. 

Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad pada seorang yahudi tua yang tiap hari meludahi & melempari kotoran padanya? Ia jenguk dan doakan sang yahudi ketika yahudi itu sakit. Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad pada seorang yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri tanpa sang yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad yang selalu ia caci. Itulah islam. Ber-islamlah seperti islam-nya Muhammad, bukan islam ala egomu. Jangan sampai kau hanya ber-islam, tapi kau kehilangan Muhammad.

Senin, 20 Juni 2016


Oleh : Prof. Sumanto alqurtuby**

Pemerintah, tokoh masyarakat, aparat, dan semua elemen bangsa tidak perlu ragu untuk menindak tegas pada berbagai tokoh dan ormas keagamaan yang bersikap “miring” dengan fondasi-fondasi kenegaraan dan kebangsaan. Tidak perlu ragu untuk “menertibkan” berbagai kelompok keagamaan yang tidak mau hidup toleran dan berdampingan secara damai dengan orang dan umat lain. Tidak perlu berpikir “dua kali” untuk “menertibkan” berbagai aturan dan perda-perda yang justru memicu intoleransi dan permusuhan. Tentu saja “penertiban” itu harus dilakukan dengan cara damai, tidak boleh melalui cara-cara kekerasan.

Pula, tidak usah khawatir “dicap” tidak agamis atau tidak Islami jika kita melakukan kritik dan tindakan tegas pada sejumlah kelompok Islam yang intoleran, urakan, arogan, dan mau menang sendiri, atau jika “menertibkan” perda-perda intoleran dan anti-kemajemukan. Kenapa tidak perlu khawatir? Karena sesungguhnya merekalah yang justru tidak agamis dan tidak Islami. Mereka pulalah yang justru telah secara terang-benderang menodai dan merusak citra Islam. Mereka pula yang telah “mengebiri” dan “membonsai” spirit Al-Qur’an yang maha luas. Bahkan mereka pulalah yang sejatinya yang telah merendahkan martabat agung Nabi Muhammad dan Tuhan. 

Aksi sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Yogyakarta (?) yang menolak secara damai kehadiran dan propaganda omong-kosong HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) tentang Khilafah, misalnya, perlu didukung oleh publik luas. Tidak perlu ragu untuk menindak tegas HTI dan ormas-ormas keagamaan sejenis yang menolak ideologi Negara Pancasila, apalagi mereka yang sering bikin onar dan meresahkan masyarakat seperti FPI dan saudara-saudaranya.

Bukannya anti-Islam, menolak HTI, FPI dan ormas-ormas “miring” sejenis lainnya justru tindakan yang sangat Islami dan bernilai ibadah. Saya sudah bilang berkali-kali, jangan terpancing dengan jualan Khilafah Hizbut Tahrir (HT, termasuk HTI). Konsep Khilafah itu tidak “Islami” apalagi “Qur’ani”. Bahkan konsep dan sistem Khilafah yang diusung oleh HT itu jelas-jelas “bid’ah” dan menyimpang dari kanon resmi, kaidah, dan etika kepolitikan yang dimandatkan Al-Qur’an dan dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan generasi Islam awal.

Perlu saya tegaskan lagi, Al-Qur’an tidak mengatur sistem kepolitikan-pemerintahan-perekonomian yang baku lengkap dengan juklak dan juknis. Al-Qur’an hanya berisi “etika” dan “norma” universal (seperti keadilan, kesejahteraan, kedamiaan, dlsb) yang bisa diterapkan oleh sistem kepolitikan-pemerintahan-perekonomian apapaun: kerajaan, kesultanan, federalisme, unitarianisme, sosialisme-komunisme dan seterusnya.

Karena tidak ada “juklak” dan “juknis” yang ceto welo-welo tentang sistem politik-pemerintahan dan perekonomian itulah kenapa sejak era Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin sampai zaman modern saat ini, umat Islam dan negara-negara mayoritas Muslim menganut berbagai sistem politik-pemerintahan dan sistem perekonomian. Para pemimpin negaranya juga bermacam-macam namanya: presiden, raja, amir, sultan, sharif, shaikh, pokonya banyak deh. Tapi yang jelas tidak ada yang bernama “khalifah”. 

Jika mereka mengklaim bahwa konsep dan tindakan mereka itu berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis, maka kita pun bisa mengklaim yang sama: karena banyak sekali ajaran Al-Qur’an-Hadis dan norma-norma keislaman yang mengajarkan sikap dan tindakan toleran, humanis, pluralis, demokratis, dlsb. Jadi, kenapa ragu? 

Sumber: Akun Facebook Sumanto Al-Qurtuby

Minggu, 27 Maret 2016



DUNIA DI UJUNG ZAMAN

Oleh : Novy Ariansyah 

Munculnya 3 fenomena dalam beberapa tahun terakhir ini telah membuktikan bahwa apa yang pernah disampaikan baik oleh Rasulullah SAWW dan Imam Ali Bin Abi Thalib As terbukti sudah, adalah ke-3 fenomena tersebut menjadi embrio perang besar akhir zaman (perang yang akan dimulai antara Para pembawa panji hitam (poros nubuwah))  melawan Zionis Israel hanya tinggal menunggu waktu saja.
Apakah ke-3 fenomena tersebut?

Fenomena ke-1 :

Berdirinya Masjid As-Sufiyani di Negeri Syam(Syiria/Suriah), terbukti bahwa ada suatu kekuatan besar(Owner) yang memberi order kepada Kontraktor Saudia Arabia(Takfiriyah Salafi Wahabi) dan bertindak sebagai dirigen perang adalah Bandar Bin Sulthan kepala Intelejen Saudi Arabia . 
Oleh Kontraktor utama yakni Saudi Arabia kemudian di subkontrakan lagi kepada Al-Qaeda(front Al-Nusra), Ikhwanul Muslim dan Tentara pembebasan Suriah dari Front(Jabath)Al-Nusra lah kemudian terbentuk Islamic States of Iraq and Syiria(ISIS), dan sampai saat ini Negeri Syam masih berkonflik.

Fenomena ke-2 :

Lahirnya ISIS mereka memakai simbol Islam bahkan sering mengaku sebagai pembawa bendera hitam, namun Ulama-ulama besar Islam dunia menyatakan bahwa ISIS ini adalah Kaum Khawarij atau kaum yang telah keluar dari ajaran Islam, hal ini dapat dibuktikan oleh tindakan pengikut ISIS yang membunuh dengan brutal, membakar tawanan perang, kemudian memjadikan tawanan wanitanya sebagai budak sex dan masih banyak kekejaman lainnya. 

Hal mengenai ISIS ini juga telah disampaikan oleh Imam Ali As sebagai berikut :

"Jika kamu menyaksikan bendera-bendera hitam maka tetaplah ditanah dan jangan menggerakan tangan-tangan dan kaki-kaki mu. Kemudian akan muncul satu kaum yang kemah(rendahan), hati mereka bagaikan batangan baja(kaku-keras). Mereka adalah pemilik daulah(negara/kekuasaan), mereka tidak setia pada perjanjian dan kesepakatan., mereka mengajak kepada Al-Haq tetapi mereka bukan ahlinya. Nama mereka menggunakan Abu... dan nama pemimpinnya mengambil nama(dinisbatkan) kepada.tempat lahirnya(Abubakar Al-Bagdadi). Rambut mereka terjulur bagaikan rambut para wanita. Setelah mereka berselisih diantara sesama mereka sendiri, kemudian Allah Ta'ala menyerahkan Al-Haq kekuasaan Nya kepada siapa yang Ia kehendaki. 

Maka dengan hadirnya ISIS sebagai fenomena ke-2 telah membuktikan hadis diatas.

Fenomena ke-3 :

Terbukanya pintu-pintu Yaman. Seperti kita ketahui bahwa di negeri Yaman saat tengah berlangsung sebuah revolusi yang digawangi oleh Milisi Al-Houthi untuk menggulingkan pemerintahan korup dan lemah yang sedang berlangsung. 

Kemudian tadi malam Presiden Yaman telah meminta bantuan Dewan Keamanan PBB serta Liga Arab untuk intervensi militer terhadap Milisi Al-Houthi(Houts). Permintaan tersebut langsung direspon dengan kilat oleh Saudia Arabia yang kemudian mengerahkan 100 jet tempurnya untuk membombardir Milisi Al-Houthi, hal yang tidak pernah SA lakukan dalam membela Palestina sebagai negeri tertindas dari kekejaman Zionist Israel. Dengan masuknya pasukan asing ke Yaman maka pengertian tentang terbukanya pintu-pintu Yaman menjadi terbukti secara gamblang sudah.

Akhir dari ke-3 fenomena diatas akan menjadi awal dari perang dunia ke-3 dimana diawali dengan perang antara kaum Muslimin yang dipimpin Iran melawan Zionis Israel, hal ini akan menandai terusirnya Bangsa Israel Zionis untuk kedua kalinya seperti dijelaskan dalam QS 17:4-5. Perang dunia ke-3 inilah seperti disampaikan Imam Ali As bahwa manusia akan binasa separuh penduduk bumi, sebagian mati karena wabah merah(darah) dan sebagian lagi mati karena wabah putih(radiasi nuklir), dimana akhir dari perang besar ini adalah tanda-tanda munculnya Ad-dajjal laknatullah dan datangnya Imam Mahdi As untuk memberikan keadilan bagi umat manusia secara keseluruhan kemudian juga turunnya Nabi Isa As.

Apa dan bagaimana Indonesia harus berperan karena waktunya tidak akan lama lagi terperciknya perang dunia ke-3?

1. Indonesia harus memiliki kepemimpinan yang kuat dengan para pemimpin yang jujur serta adil.

2. Indonesia harus menjadi pemimpin dan pemain utama dikawasan Asia Tenggara sehingga dapat menjadikan Wilayah Asia Tenggara sebagai kawasan bebas perang(zona aman).

3. Indonesia harus membersihkan masyarakat dari pemahaman-pemahaman radikal yang dibawa oleh Manhaj Takfiryah Salafi Wahabi sehingga masyarakat menjadi tentram dan Indonesia dapat menjadi negara yang makmur karena stabilitas politik dan keamanan terjamin.

Semoga kita terselamatkan dari fitnah-fitnah besar dari poros setan. 

Tag: # Fenomena Akhir Zaman, # Pengikut Dajjal, # Fitnah Besar, # Perang Dunia Ketiga 

Rabu, 09 Maret 2016



HAJAR MEREKA, BUNG AHOK....

Oleh : Denny Siregar 

Selamat siang, bung Ahok..
Saya panggil bung saja ya, boleh ? Kata2 bung mengingatkan saya terhadap panggilan pada masa pra kemerdekaan, dimana masih banyak orang ber-integritas yang mempunyai tujuan sama, yaitu melawan penjajahan.

Apa yang bung lakukan dengan menetapkan diri berada di jalur independen, patut saya angkatkan secangkir kopi. Tidak mudah berada pada situasi bung, apalagi di masa ketika banyak orang mengemis kepada partai2 untuk dijadikan calon mereka. Dan kita semua tahu, disana ada negosiasi siapa dapat apa dan dimana posisi mereka. Partai adalah mesin politik, mereka butuh uang sebagai pelumasnya.

Tapi bung tidak. Bung menempatkan diri sejajar dengan mereka. Gua butuh elu, lu juga butuh gua. Tapi jangan minta2 apa2, ini amanah, bukan peti harta.

Berapa banyak orang seperti bung di Indonesia ? Hampir tidak ada. Bung memporak-porandakan semua tradisi maling yang selama ini terjaga. Kericuhan yg bung ciptakan adalah bukti bahwa disanalah sarang mereka. Bung dikeroyok, dihantam dan bertarung sendirian. Mereka meraung, bung memaki. Mereka menghujat, bung mendamprat. Serigala lawannya harimau bukan kambing.

Pertanyaannya sekarang, seberapa kuat bung bertahan ?

Ijinkan saya sedikit bercerita tentang sejarah Islam kepada bung. Ada sahabat Nabi Muhammad Saw yang bernama Abu Dzar al Ghiffari. Ia dulu seorang perampok sebelum bertobat. Ia berperang dengan gagah berani, hingga ketika Nabi wafat, ia sangat kehilangan panutan.

Masa sesudah Nabi adalah masa kekacauan. Korupsi, nepotisme menjadi kebiasaan. Abu Dzar muak, tetapi ia teringat nasehat Nabi, "berperanglah dengan lisan, sarungkan pedang.." Dan begitulah yang terjadi. Ia datangi pusat pemerintahan, ia memaki. Ia dibuang ke daerah, disana ia kembali mendatangi pemerintahan dan memaki. Gerah dengan perilaku Abu Dzar, mereka sepakat mengasingkannya. Ia dibuang tanpa makanan. Ia, sahabat Nabi yang selalu berperang di sisinya, meninggal karena kelaparan. Nabi sudah meramalkan, "Abu Dzar berjalan sendirian, meninggal sendirian dan dibangkitkan sendirian.."

Dan dengarlah ucapan Abu Dzar bung, pada akhir nafasnya, "Kebenaran tidak meninggalkan pembela bagiku..."

Begitulah, bung pun berjalan sendirian. Memang itu sudah takdir mereka yang berada di jalan yang benar. Itu sudah suratan. Sudah saatnya kebenaran berada pada posisi berbeda, ia tidak membutuhkan dukungan partai, karena selalu ada yang namanya sahabat, teman dan relawan.

Tidak ada kata kalah dalam perjuangan, bung. Kedudukan hanyalah alat, tidak pantas diperebutkan. Kemenangan ada di proses dan bung sudah menunjukkan dan mengajari kami tentang itu. Bung merobek semua sekat ras, agama dan budaya. Buat bung ini tentang kebenaran dan kesalahan, bukan tentang siapa berkulit apa.

Yakinlah bung, ada ribuan generasi muda yang sedang tumbuh mengamati apa yang bung lakukan. Sama seperti bung yang dulu belajar dari kearifan Gus Dur dan keteguhan Baharudin Lopa. Apakah mereka kalah, bung ? Tidak. Itulah kemenangan yang sebenarnya. Ketika apa yang mereka lakukan menjadi inspirasi, motor penggerak. Kekalahan itu adalah ketika seorang berada pada kekuasaan dan sekejap ia menjadi hewan beringas.

Tidak perlu statistik dalam berjuang. Biarlah mereka meng-kalkulasi kursi, bukan itu tujuannya. Tujuan bung adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Itulah yang dinamakan keadilan. Keadilan bukan semua mendapat porsi yang sama. Berjuanglah bung dan biarkan Tuhan yang mengerjakan sisanya.

Saya di belakang bung... Saya berperang pada sisi yang saya bisa. Saya harus berpihak, karena netral hanyalah bentuk keraguan.
Bung Ahok, anda adalah salah satu guru yang mengajari saya bagaimana menjadi manusia. Semoga ketika semua selesai, ketika bung sudah tua dan lelah, sudilah kiranya duduk dan minum kopi bersama. Terkadang, pahitnya kopi jauh lebih jujur dari seorang manusia.

Sruput kopinya dulu, bung... Salam hormat dari saya dan ribuan warga Jakarta yang berterima-kasih kepada anda dan menitipkan satu pesan saja, "Tolong hajar mereka... " 

Selasa, 01 Maret 2016


Curahan Hati Seorang Feminis

Oleh: Mita Handayani


  • Mulanya mereka menyuruhmu menutupi dadamu.
  • Lalu mereka menyuruhmu menutupi betismu.
  • Lalu mereka menyuruhmu menutupi lenganmu.
  • Lalu mereka menyuruhmu menutupi rambutmu.

  • Cukup? Tidak, sayang. Tidak akan pernah cukup.
  • Mereka akan terus menyuruhmu menutupi wajahmu.
  • Menyuruhmu menutupi sampai ujung-ujung jari kaki dan tanganmu.
  • Menyuruhmu berpakaian lebih gelap dan lebih kelam lagi.
  • Lebih suram dan tanpa corak sama sekali.
  • Lalu menyuruhmu menyamarkan matamu yang hanya dua itu.

  • Sampai tak ada satu senti pun yang bisa lagi mereka suruh untuk tutupi.
  • Lalu mereka akan menyuruhmu menyembunyikan suaramu juga.
  • Hingga pada akhirnya, mereka akan menyembunyikanmu selamanya di balik tirai-tirai gelap di mana dunia tak akan pernah tahu siapa dirimu, apa mimpi-mimpimu. Memenuhi kodratmu sebagai perhiasan yang katanya paling berharga: disimpan rapat-rapat dalam kotak milik tuannya.

Senin, 22 Februari 2016



oleh ; Ismail Amin

Ahmadi Nejad tampil dalam peringatan Asyura di Qom... kok tidak melukai diri? kok tidak mencambuk diri sampai berdarah2 sebagaimana Syiah yang selama ini diperkenalkan oleh media? apa karena Ahmadi Nejad bukan Syiah? apa karena tidak tahu bahwa melukai diri di hari Asyura itu tradisi Syiah? apa karena Ahmadi Nejad kurang iman kesyiahannya?

orang2 Syiah yang melukai diri dihari Asyura memang ada.. bahkan dengan cara2 yang irasional... tapi jangan semua disamakan, sebab dikalangan Syiah masih jauh lebih banyak dari mereka yang taat pada fatwa ulama2nya yang melarangnya, dibanding yang lebih memperturukan nafsunya dengan menampilkan sikap keberagamaan yang ekstrim dan berlebih2an...

Mengenai tradisi melukai diri sampai berdarah-darah dengan menggunakan benda-benda tajam di Hari Asyura yang sering dikaitkan dengan Syiah, saya katakan:

>> Pertama, kalau memang itu dianggap ibadah yang afdhal dilakukan, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya.

>> Kedua, kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa...

>> Ketiga, kalau memang itu ajaran Syiah, maka warga Iranlah yang terdepan melakukannya. Faktanya, melukai diri di hari Asyura justru diharamkan oleh fatwa-fatwa ulama Iran dan melanggar aturan pemerintah, pelaku dan yang menganjurkannya akan berurusan dengan pihak keamanan Negara...

>> Keempat, kalau memang itu dianjurkan, maka ulama-ulama Syiah tentu akan menyerukan penyelenggaraannya, faktanya, yang ada justru fatwa pengharaman dan pelarangannya.
Lantas, mengapa tradisi itu tetap ada sampai sekarang?
Disetiap kelompok ada orang-orang ekstrimnya, yang gemar melakukan sesuatu dengan berlebih-lebihan...

Adapula yang memang tetap sengaja melakukannya, agar Syiah tetap mendapat stigma negatif. Dan bisa anda lihat, setiap gerakan dan kampanye anti Syiah, anda akan temukan gambar-gambar sekelompok kecil orang berdarah2 yang mereka bawa2 untuk menunjukkan betapa sesatnya Syiah....

Padahal mereka sendiri yang sesat, karena tidak tahu mana ajaran Syiah, mana kelakuan orang-orang yang mengklaim diri Syiah, namun dengan sengaja melakukan hal yang dilarang oleh ulama-ulamanya...

Walhasil, melukai diri di hari Asyura bukan bagian dari ajaran Syiah dan tidak pula pernah dianjurkan oleh Maksumin As...
“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” [Qs. An Nuur: 15]

Selasa, 09 Februari 2016



PAKDE JOKOWI, TOLONG ANAK2 KAMI....

Oleh : Denny Siregar

Era Soeharto meski meninggalkan jejak berdarah, juga meninggalkan jejak yang baik.

Begitu kuatnya nasionalisme ditanamkan sejak dini. Upacara bendera di sekolah2, lagu2 kebangsaan, pemasangan bendera saat hari perjuangan benar2 dipaksakan. Tidak ada yang berani melanggar, karena akan dituding PKI dan kata PKI adalah momok yang menakutkan.

Lepas era Soeharto, perlahan2 terkikis juga nasionalisme. Semua bicara reformasi tanpa perduli bahwa reformasi harus ada dasar, tanpa itu reformasi seperti terop kawin yang terbang kena badai.
Saat itu pelan2 masuklah kembali paham Negara Islam, paham lama yang dimodifikasi dan diusung pihak yang beragam. Hormat bendera menjadi haram, pancasila di musrik-kan dan tumbuhlah organisasi2 radikal yang ke-arab2an meng-klaim bahwa Islam harus seperti mereka.

Lihatlah buku2 pelajaran. Islam digambarkan berjenggot dan celana cingkrang, seolah2 begitulah seharusnya seorang muslim. Sibuk di aksesoris dan ritual dengan meninggalkan konsep "paham". Pengajian2 dibangun dimana2 untuk merekrut kader2, bukan lagi sebagai tempat pengisian jiwa. Masjid2 dibangun sebagai tempat berkumpul ideologi bukan lagi sebagai "rumah" Tuhan.
Belasan tahun mereka membangun itu sejak jatuhnya rezim Soeharto dan hasilnya mulai terlihat sekarang.

Seorang bupati dikejar2 ormas tanpa perlindungan aparat. Seorang walikota melindungi ormas yang menentang Pancasila bahkan meresmikan kantornya . Seorang Gubernur duduk bersila dibawah kaki negara Saudi, mengemis minta dana dengan mem-fitnah. Seorang Gubernur bagus diserang karena "kafir" dan tidak boleh memimpin "muslim".

Nasionalisme yang dibangun kuat oleh Soeharto luntur, seperti bedak terkena hujan. Kikisan2nya menggoyahkan pondasi kenegaraan. Mereka sudah sangat terbuka, terang2an menuding dasar negara dan menuntut di bentuknya negara khilafah,

Sudah saatnya Pakde melibatkan penuh NU dan Muhammadiyah dalam meramu konsep pelajaran Islam di sekolah2. Sertifikasi guru2 agama di sekolah, juga ustad2 dan pelaksanaannya di berikan kepada 2 organisasi itu, bukan MUI, sehingga mereka punya koridor nusantara dalam mengajar, bukan koridor timur tengah.

Galakkan kembali hormat bendera dan gaung Pancasila. Jika perlu, paksa sebagai sebuah kewajiban. Sekolah negeri yang tidak melaksankan, beri sanksi. Pakde sudah bagus menyuruh media TV memutar lagu2 nasional, tetapi itu jangan dijadikan konsep "jika media TV berkenan", tetapi harus jadi kewajiban, seperti hal-nya masa Soeharto dulu mewajibkan setiap jam ada berita nasional di semua radio2. Ancam cabut ijinnya jika menentang.

Pakde, nasionalisme kita sedang dirongrong, banyak pejabat yang main serong, jangan pakai tendangan memutar lagi untuk ini tapi sudah harus gunakan kungfu peremuk tulang.
Nasionalisme harus dipaksakan sejak kecil, supaya besar nanti anak2 kami tidak mudah dikadalin radikalis berdagu sarang lebah dan bersorban. Pakde, nasionalisme anak2 kami terancam.

Pakde, tolong kami.... Masak harus Batman yang turun tangan ? Batman hanya bisa bergerak di kegelapan, dan itupun kudu ada kopi dan tahu isi sebagai suguhan.

Nb :
Kucing kurus mandi di papan. Pakde kurus tapi orangnya tampan. *
*agak menjilat supaya nanti diundang makan2*

Rabu, 03 Februari 2016



Dua wajah Negara Islam.

Oleh: Zainab Ali
-----
Awalnya, saya tidak memperhatikan atau tidak menganggap istimewa penangkapan 10 marinir AS oleh Iran, karena ketangguhan dan ketegasan Iran sudah teruji, dan bukanlah sesuatu yang baru.

Namun ketika Rahbar memberikan medali Fath kepada Komandan Angkatan Laut, dan beliau menyampaikan pujiannya[ bisa anda baca disini] , barulah saya tersadar akan satu hal: kejadian ini sangat luar biasa.

Rahbar bilang, bahwa kuasa Allah-lah yang membawa kapal laut itu memasuki perairan Iran. Allah pula yang memberikan keberanian bagi Angkatan Laut Iran untuk menahan mereka.

Membaca ucapan Rahbar, saya langsung teringat pada Operasi Eagle Claw oleh AS yang diperintahkan Presiden Jimmy Carter untuk membebaskan orang AS yang ditahan Iran. Namun operasi itu gagal karena adanya badai gurun yang mmebuat helikopter ini hilang kendali, bertubrukan, dan delapan awak AS tewas. Melihat hal ini, Imam Khomeini berkomentar, “Pasir dan angin adalah ‘pasukan' Allah dalam operasi ini."

Begitu pula yang disampaikan Rahbar. Kedua kapal laut AS tersebut mengalami kerusakan navigasi, sehingga tanpa sadar mereka telah sampai di perairan Iran dan ditangkap. Bisa saja, kerusakan tersebut hanyalah kerusakan biasa, tetapi saya percaya bahwa itu semua terjadi dengan izin Allah.

10 marinir tersebut ditahan, dan waktu itu saya intip twitter, banyak sekali aktivis, analis, ataupun pejabat-pejabat AS yang berang. Mereka tidak terima marinir mereka ditahan dan menyeru agar pemerintah Iran segera melepaskannya. Namun Iran tidak terpengaruh, marinir itu akan diselidiki terlebih dahulu, dan AS harus minta maaf secara resmi jika ingin marinir mereka dibebaskan.

Saya baru menyadari mengapa orang-orang AS begitu rekatif, terutama aktivis-aktivis kemanusiaan mereka. Mereka telah disuguhi tontonan mengerikan sepanjang tahun oleh “Negara Islam” atau ISIS. Para tahanan dilakukan dengan sangat sadis. Yang pria dibunuh dengan cara yang sangat biadab, sedangkan tawanan wanita dijual ataupun diperbudak. Dan ISIS melakukan itu dengan memakai bendera “Negara Islam”.

Saya memahami kekhawatiran mereka. Bagaimana kalau marinir-marinir AS tersebut dianiaya, disiksa, atau digantung oleh Iran?

Ternyata, yang terjadi sebaliknya. Walaupun ditahan, tapi semua marinir AS tersebut ditempatkan di ruangan yang bersih dan rapi, disuguhi makanan, minuman, dan buah-buahan. Mereka juga diperlakukan dengan baik (tidak ada yang diborgol/ diikat/ ataupun disiksa). Dan bukankah Iran adalah Negara Islam? [ bisa anda lihat videonya disini]

Mengapa dua “Negara Islam” ini begitu bertolak belakang bagaikan langit dan bumi. Yah, tentu saja karena Republik Islam Iran adalah negara yang berdasarkan Islam Muhammadi, sementara Negara Islam ala ISIS [Jabhat Nusra, Ahrar sham dll-red] adalah Islam versi Umawi [atau Bani Muawiyah yang menurunkan ajaran Wahabi-red].

Sekali menepuk, dua lalat jatuh. Perlakuan Iran terhadap tawanan menuai apresiasi, dan bagi orang-orang yang phobia terhadap Islam niscaya akan mulai berpikir, benarkah informasi tentang Islam yang mereka terima selama ini? Rahbar telah dua kali mengirim surat kepada pemuda Barat, agar mengenal Islam dari sumber-sumbernya yang asli, bukan dari kawanan teroris pemakan hati[ingat Hindun si Pemakan jantung] .

Kejadian ini pula, ternyata membongkar kedok AS yang mengaku sebagai negara penegak HAM. Justru di negara itu, para tahanan diperlakukan dengan sangat tidak manusiawi [lihat tahanan Guantanamo] .

Akhirnya saya semakin meyakini firman Allah. Boleh saja mereka menciptakan tipu daya/ makar, namun Allah adalah sebaik-baiknya pembalas tipu daya.

Ayatollah Khamenei is Love

Tag: #Perbedaan Islam

Kamis, 28 Januari 2016



AGAMA HOMOSEKSUAL [LGBT-red] 

Oleh: Denny Siregar 

Coba kita duduk sejenak dan berfikir dengan jernih.

Anggaplah saya ini media. Setiap waktu selama berpuluh-tahun, saya mengatakan bahwa buah APEL itu adalah JERUK. Saya mengundang para pakar yang saya bayar yang akan menerbitkan jurnal ilmiah dari segala sisi bahwa apel itu adalah jeruk.

Apa yang akan terjadi ? 

Secara otomatis anda akan mempercayai bahwa apel itu adalah jeruk. Apalagi ada dasar2 "ilmiah" berdasarkan "penelitian" para pakar, meski anda bahkan tidak pernah memegang jurnal ilmiah itu dan tidak mempunyai pengetahun itu, hanya berdasarkan informasi dari google. 

Begitulah cara propaganda yang merasuki akal dan mengubah pola pikir dan perilaku anda. Anda akan menjadi seperti yang mereka inginkan.

Dan perhatikan yang ini...

Ketika anda keluar dari negeri ini dan mengunjungi daerah lain, anda menemukan komunitas yang mengatakan bahwa apa yang anda yakini sebagai jeruk, sebenarnya adalah apel. Anda tetap ngotot itu jeruk, bertahan pada kesalahan pikir yang sudah terdoktrin bertahun-bertahun. 

Dahsyat bukan ?

Anda harus memahami ini dengan benar, supaya anda bisa mengetahui bagaimana cara mereka mengontrol kita.

Dan ketika akhirnya anda menganggap bahwa homoseksual itu benar, karena takdir, karena kromosom etc berdasarkan "jurnal ilmiah" yang bahkan anda bukan seorang ahlinya, hanya copas sana sini dengan bangga seakan2 anda sudah berilmu, berarti mereka sudah menang. Propaganda mereka berhasil. 

Ketika propaganda mereka berhasil, maka mereka berharap hasilnya adalah kerusakan moral, pembangkangan terhadap hukum Tuhan dan penyimpangan perilaku. Kekacauan tatanan yang sudah diatur oleh agama. 

Anda malah mendukung para homoseksual dan - secara tidak sadar - mendukung mereka dan membenarkan kesalahan2 berfikir mereka dengan meyakini bahwa itu takdir Tuhan. 

Begitulah kemenangan propaganda, dan kekalahan agama. 

Sama persis ketika seorang di doktrin bahwa radikalisme adalah bagian dari menjalankan firman Tuhan. Meski secara akal mereka yang sehat itu salah, mereka menganggap bahwa "menggorok leher orang kafir" adalah kebenaran. Sama berbahayanya.

Jadi ketika seseorang mencoba mencuci akal sehat saya bahwa homoseksual itu legal, maaf maaf saja... 

Saya hanya pakai hukum Tuhan sebagai pegangan di era pemerkosaan pikiran ini, bukan hukum para pakar yang pasti manusia dengan segala kebutuhan dasar dan kepentingan mereka. 

Tuhan mengajarkan kita minum secangkir kopi dengan benar, bukan sambil split kaki mengangkang ke atas.

Tag: #Homoseksual, #Radikalisme

Sabtu, 23 Januari 2016



SURAT KASIH UNTUK JONRU

Oleh : Yusuf Muhammad

Kali ini saya harus support kamu Jon, anda tahu mengapa? Karena saya khawatir kehilangan orang seperti anda.

Selama ini saya selalu menghargai apapun pendapat anda, meskipun terkadang apa yang anda tulis itu sangat mengganggu logika berfikir saya.

Saya terkadang bingung juga dengan latar belakang anda. Ada yg bilang anda Tukang sayur, penulis, ada juga yg bilang penjual sprei, ada juga yg bilang anda penyalur donasi saat mendadak ada bencana alam. Dan yg paling terkenal, anda dikenal sebagai tukang kritik pemerintahan Jokowi nomer wahid di Fesbuk.

Ah tapi apapun latar belakang dan kerjaan anda itu tidak masalah, karena hidup harus terus dilalui. Jadi gini, dalam kisah perjalanan hidup manusia itu, tentu ada sesuatu yg akan dikenang saat kematiannya. Tinggal kita mau dikenang kebaikanya atau kejelekanya.

Kalau melihat kisah “si Malin Kundang”, dia dikenal sebagai anak durhaka dan di kutuk jadi batu. Saya yakin, anda tidak akan mau jika pas ajal menjemput nanti dikenang sebagai “Tukang Kritik Jokowi no. wahid telah wafat” atau dikenang “Jonru sang penebar kebencian di fesbuk telah wafat”.

Saya tahu, Anda mungkin ingin dikenang yang baik oleh banyak org saat ajal menjmput nanti. Mungkin dikenang sebagai “penulis buku inspiratif telah wafat”. Namun apapun itu hanya Tuhan yg tahu, cuma setidaknya kan berharap gimana supaya bisa dikenal baiknya.

Banyak yang tandatangani petisi, agar anda bisa tampil di salah satu acara talk show terbaik yaitu “Mata Najwa”. Saya tahu, meskipun seumpama nanti ada tawaran, anda akan menolaknya dan tidak akan berani tampil di acara tersebut. Mengapa? Karena itu sama saja anda ‘bunuh diri’.


Banyak yang hampir kena serangan jantung saat tampil di Mata Najwa. Mantan Istri Bang Haji si Raja dangdut sudah pernah jadi korban. Ahmad Dani juga sudah pernah. Mereka yang ngomongnya enteng dimana2, tapi saat tampil di Mata Najwa seperti kena hantaman badai pertanyaan mematikan dari Najwa.

Saya yakin anda sudah tahu itu dan tak ingin dipermalukan oleh Najwa. Bisa2 follower fesbuk anda tinggal sebiji, itupun yang punya akun sudah mati. Coba bayangkan kalau sampai hilang semua, gimana anda mau jual Sprei? Gmana mau jual buku? Gimana mau dapat sumbangan? Bisa2 anda tidur di pasar bantalan sayur Gubis Jon.

Saran saya sih jangan mau kalau di suruh tampil di “Mata Najwa”. Mending tampil di acara “Logika Ahmad Dani” lebih cocok kayaknya. Kan kalian punya logika yang hampir sama. Kalau bisa pas tampil rambutnya di gundul sekalian trus selfie bareng.

Manusia seperti anda itu langka, jadi kalau bisa dibudidayakan atau paling tidak dipertahankan agar tidak punah. Tapi Jika sampai punah apa boleh buat, mungkin saya akan melayat ke rumah anda sambil bawa karangan bunga.

Tag: #Jonru, #Mata Najwa, #Ahmad Dhani, #Surat Kasih

Minggu, 17 Januari 2016



ISLAM CABE-CABEAN
Oleh: Denny Siregar 

Ada satu masa dimana Islam itu menjadi agama para kaum alay. Mereka adalah kaum wanna be...
Kalau alayers di dunia hiburan suka mengikuti apapun yang dipakai artis Negro atau Korea, alayers di Islam suka apapun yang berbau arab.

Kalau alayers dunia hiburan yang penting penampilan, otak belakangan... Kalau alayers di Islam yang penting penampilan, otaknya disimpan.

Kalau alayers di dunia hiburan suka dengan panggil "dude", "gals", "yo", kalau alayers di Islam senang memanggil dengan "akhy", "ukhti", "antum"..

Kalau alayers di dunia hiburan hapal syair penyanyi kesayangannya, alayers di Islam hapal kata2 ustadnya. Semua apa kata ustad. Sesuai peribahasa, guru cebok berdiri, murid cebok berlari.

Kalau alayers di dunia hiburan sok gaya nge-rap dengan menyapa "Wazzup, bro..", alayers di Islam sok ngarab kalo di sapa, "Jazakallah kheir.. ". Padahal hidungnya pesek, rambutnya pirang.

Kalau alayers di dunia hiburan selalu berasa gagah kalau ngomong dengan bahasa gaul "just sail away, yo..", alayers di Islam berasa gagah kalau udah koar "Syiah sesat", "ah ini liberal..".

Kalau alayers di dunia hiburan sukanya dengan gerombolan JKT48, alayers di Islam sukanya dengan rombongan pria berdaster.. Yang suka acung2kan telunjuk ke langit, mirip pawang hujan.

Itulah Islam cabe2an...

Mereka masih sangat muda, sangat berisik kalau ketemu sesama, suka pamer keimanan dan suka nantang2, selfie pake tutup kepala serbet makan kotak2 merah, sambil memegang AK-47 keponakannya yang dari plastik dan kalau di tarik picunya bunyi Rrrrrr... Rrrrrrr.... Trus ada lampunya kelap kelip warna merah di pucuknya.

Sungguh masa kecil yang kurang bahaya...

Background benderanya biasanya hitam ada kalimat syahadat, padahal shalat aja kadang2. Kadang males, kadang lupa.

"Lah trus kalo udah tua tapi masih suka begituan, namanya apa bang ?"
"Kalo itu cabe kering... Pedes ngga, busuk iya.. Bijinya banyak, besar2.."

Tag: #Islam Cabe2an, #Denny Siregar, #Syiah sesat, #Kaum Alay, #Liberal

Selasa, 12 Januari 2016



Agnes Monica dengan kostum seksi bertuliskan huruf arab

FENOMENA AWAM RELIJIUS DI NEGERIKU

Oleh: Ahmed Zain Oul Mottaqin 

1. Kemarin saya melihat postingan seorang muslimah di fb yang mengupload foto seorang wanita berjilbab mengenakan kalung salib. Setelah dia tanya ternyata wanita tersebut seorang Nasrani. Lalu si muslimah pengupload tersebut menyebutnya sebagai "penistaan terhadap islam."

2. Dulu juga ramai bersliweran di media sosial postingan beberapa wanita dan anak-anak Nasrani Orthodoks yang sedang beribadah mengenakan jilbab/kerudung, lalu mereka tulis "Berhati-hatilah telah muncul agama baru yang meniru-niru islam"

3. Bahkan yang terbaru kemarin, hanya karena Agnes mo [Agnes Monica-red] memakai kostum panggung seksi dengan tulisan arab المتّحدة lalu sebagian muslim heboh menyebutnya sebagai penistaan terhadap islam, padahal tulisan tersebut hanya bermakna persatuan.

Sebegitu 'mengerikan'-nya kah potret kejumudan umat islam di negeri ini?

Saya sebagai muslim justru merasa sangat aneh jika melihat simbol-simbol seperti jilbab dan huruf arab diidentikkan hanya dengan agama islam saja.

Pada zaman jahiliyah sebelum Rasulullah lahir, bahasa arab itu adalah bahasa sehari-hari bangsa jahiliyah tersebut bahkan mereka menjadikan syair-syair arab sebagai ukuran intelektualitas.

Kaum Kristiani di Mesir, Suriah, Palestina, Iraq setiap hari menyanyikan lagu rohani mereka memuji Yesus dan Bunda Maria pun dengan berbahasa arab.

Bahkan jauh sebelum datangnya Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, para wanita Nasrani Orthodoks sudah mengenakan kain penutup rambut setiap beribadah. Bahkan para biarawati pun mengenakannya sehari-hari. Lalu apa itu penistaan terhadap islam? Hellooow..

Banyak saudara kita disini yang cakrawala beragamanya masih sangat sempit. Mereka tidak sadar bahwa apa yang dijalani agamamu belum tentu milik agamamu sendiri. Simbol-simbol agama yang kau sebut syar'i itu juga merupakan simbol-simbol agama samawi lainnya.

Inilah fenomena awam religius di negeri kita. Dan sayangnya jumlah mereka sangat banyak di negeri ini. Kaum relijius dangkal dan sempit yang memahami agama hanya dari kulit dan simbol-simbol.

Dan orang-orang seperti inilah sasaran potensial cuci otak intoleransi dan takfirisme. Kaum ini akan 'terhipnotis' begitu melihat para ustadz bersorban, bergamis dan berjenggot lalu mengikutinya tanpa kritis. 

Mendengar ustadz-ustadz yang pandai mengutip teks agama dan sepenggal kalimat berbahasa Arab, awam relijius ini akan tunduk rebah menelan semua ujaran kebenciannya. Apalagi mendengar buaian surga dan janji 72 bidadari, para awam relijius ini pun akan rela mati menjemput 'jihad' dimanapun mereka diarahkan untuk 'berjihad'.

Proses pencarian agama mereka terhenti di ranah kulit. Dan tidak aneh orang-orang ini sangat menggandrungi para selebritis mendadak ustadz dan para muallaf mendadak ustadz (ahh you know lah siapa).

Dalam kitab Al Wala' wal Bara' disampaikan sebuah kalimat singkat, "Waspadalah terhadap para ahli ibadah yang bodoh", mereka sungguh bersemangat dalam ghiroh agama namun sayangnya karena tanpa dibekali kecerdasan dan daya kritis mereka justru menjadi duri dalam islam yang hakikatnya ajaran yang 'hanifiyyatus samhah' >> semangat mencari kebenaran dengan lapang dada & toleran tanpa fanatisme sempit.

Entah apa yang ada dalam mindset islam para manusia simbol ini. Di satu sisi, mereka merasa dihinakan jika simbol-simbol agama mereka dipakai umat agama lain seraya mereka sebut itu "penistaan". Tapi anehnya mereka tidak pernah marah jika simbol agama mereka seperti kalimat Tauhid dipakai untuk berbuat terorisme seperti yang dilakukan ISIS (padahal itu jelas-jelas merupakan simbol eksklusif islam).

Mereka tidak marah teriakan Takbir digunakan untuk mengebom masjid dan warga sipil. Mereka juga tidak marah simbol-simbol eksklusif islam tersebut digunakan para teroris untuk menyembelih tawanan hidup-hidup seraya dengan bangga menenteng kepala korbannya sembari pamer telunjuk ke atas lambang bertauhid.

Dan tidak aneh, golongan muslim jumud seperti ini biasanya yang paling doyan dengan berita dari media-media 'sumbu pendek' berbau 'religius' macam arrahmah dot com, fimadani, islampos, eramuslim, jonru, pkspiyungan dan sejenisnya yang doyan mencitrakan agama ini secara sempit dan intoleran.

Note: Mungkin foto dibawah ini bisa buat perbandingan siapa sesungguhnya yang melecehkan islam: Saudi Melecehkan Islam atau Agnesmo ? 





Tag:#berjihad, #sumbu pendek, #Muslim jumud, #selebritis, #Ustad Mualaf, #Nasrani Ortodoks, #Agnesmo, #Agnes Monica, #72 bidadari, #Fenomena, #Awam Relijius, #kostum panggung seksi,#Saudi Melecehkan Islam

Sabtu, 09 Januari 2016

Oleh : Denny Siregar

MUSLIM TAK BERAKAL
"Umatku banyak di akhir zaman, tapi mereka seperti buih di lautan.."
Perkataan Nabi Muhammad Saw, sejak dulu menghantuiku. Meninggalkan jejak di benakku. Apa maksudnya buih di lautan ? Siapakah yg dimaksud buih di lautan ? Apakah aku juga termasuk buih di lautan ?



Tahun demi tahun berlalu, peristiwa demi peristiwa terjadi dan terjawablah apa yang dipertanyakan. Islam menjadi agama kedua terbesar di dunia, dahsyat memang, tetapi pondasinya sungguh kerontang.

Terciptanya media sosial, semakin mengembangkan bentuk fitnah menjadi ukuran raksasa. Inilah yang disebut fitnah besar, baik besar secara ukuran juga massif secara penyebaran. Untaian2 "kembali kepada Alquran dan sunnah" dilantunkan, tetapi tafsirnya dipelintirkan. Sesuai nafsu siapa yang berbicara.

Lalu berkembanglah fitnah2 terhadap Islam.

ISIS adalah monster yang dipakaikan baju muslim. Dengan aksesoris kemusliman, mereka membantai siapapun yg menghalangi kehendak mereka. Penciptanya bukan hanya Yahudi dan Kristen, bahkan mereka yang mengaku beragama Islam sendiri.
Kenapa harus berbaju muslim ? Supaya mengacaukan akal mereka sehingga mereka bingung mengenali jihad dan kejahatan, bingung mengenal kebenaran dan kesalahan.

Dan pada awal kemunculan ISIS, banyak sekali kita lihat mereka yang mendukungnya dengan argumen, "Islam menemukan kejayaannya." Sesudah ternyata ISIS akhirnya ditasbihkan menjadi teroris, mereka kemudian berpaling dan berkata, "ISIS itu mencoreng nama Islam.."

Ketika Iran berhasil mengusir AS dari negaranya, banyak yang mengagungkan Ayatullah Khomeini sebagai tonggak kejayaan Islam. Ketika akhirnya propaganda massif mampir ke beranda mereka, mereka balik memusuhinya dan mengatakan "Iran itu syiah. Syiah itu sesat dan bukan Islam.."

Mereka seperti buih di lautan dipermainkan ombak. Timbul tenggelam tanpa arah dan kepastian. Tidak punya patokan dan bingung mencari pegangan.

Kebingungan ini bahkan melanda dan masuk ke rumah tangga. Ketika hati ingin dekat kepada Tuhan, mereka malah dipermainkan. Di pengajian2 mereka di cuci otak dengan konsep kafir, sesat, najis, haram dan ujungnya kepada negara berdasar khilafah. Mereka seperti kerbau dicucuk hidungnya dan mengikuti apapun kata ustad mereka, yang mereka anggap lebih tahu agama dari dirinya.

Akal mereka hilang. Mereka meninggalkan keluarga mereka dengan dalih bermacam2. Ada yang ingin berjihad di jalan Tuhan, ada yang menganggap pasangannya kafir dan najis, bahkan ada yang hartanya terkuras dengan dalih berjuang di jalan agama, padahal hanya untuk membiayai kegiatan kelompok saja.

Mereka sulit bersosialisasi dengan sekelilingnya karena sudah menganggap dirinya paling benar. Mereka membentengi dirinya dgn aksesoris2 utk membedakan dengan manusia lain. Mereka bingung mereka berpijak di bumi mana, mungkin saja mereka menganggap dirinya sebenarnya adalah alien yang tinggal di planet Nexus.
Mereka menjadi persis seperti kata Imam Ali as, "Ketika akal melemah, kebanggaan diri menguat."

Ini memang zaman mengerikan, berhati-hatilah dengan mereka yang selalu mengatas-namakan agama tetapi minus ahlak. Butuh bercangkir kopi dan akal yang jernih untuk memahami situasinya.
Jangan sampai boneka barbie anak pun diberi cadar hitam karena harus sesuai syariat Islam. Ini gendeng namanya..

Tag: #Muslim tak Berakal, #kemunculan ISIS, #planet Nexus, #Syiah itu sesat, #cuci otak, #Akhir Zaman

Rabu, 06 Januari 2016

Oleh : Ahmed Zain Oul Mottaqin 
Satu hal yang sangat saya apresiasi dari kawan-kawan Syi'ah di dunia maya ini adalah dalam menanggapi eksekusi Syaikh Nimr dan keluarganya oleh Rezim Saudi, mereka tidak pernah berteriak "Rezim Sunni telah membantai kaum Syi'ah".
Sungguh kontras dengan para Takfiri yang tiap mendengar kabar Rezim Iran menghukum gantung kaum Sunni (walaupun selalu bermodal berita Hoax) langsung berteriak "Rezim kafir Syi'ah telah membantai kaum Sunni".


Dalam hal ini kawan-kawan Syi'ah terlihat bersikap lebih dewasa. Walaupun dalam hal ini Rezim Saudi memang Sunni tapi mereka tidak terpancing dengan slogan-slogan perpecahan sektarian di antara umat Islam, karena mereka tahu Rezim Saudi yang membunuh Syaikh Nimr tidak layak menjadi representasi dunia Sunni.

Sebagai contoh, semasa Rezim Saddam Husein yang Sunni berkuasa, sudah jutaan kaum Syi'ah yang dibantai Rezim. Pernahkah sekali saja anda mendengar ada ulama besar Syi'ah disana yang berteriak "Rezim Sunni membantai kaum Syi'ah"? Tidak! Karena mereka melihat seorang Saddam tidak layak menjadi representasi wajah Sunni dan Sunni pun tidak mengajarkan hal seperti itu. Dan hanya orang-orang pilihan Tuhan yang diberi karunia mampu bersikap adil terhadap kaum yang mereka benci.

Mereka secara adil melihat nama besar mazhab Ahlussunnah tidak berhak diwakili para Kriminal ataupun para ekstrimisnya yang takfiri, tapi lebih layak diwakili oleh kalangan pengikutnya yang moderat seperti Aswaja NU (bukan NU Garis Lurus) yang toleran dan ramah (takfiri sering menyebut mereka sebagai liberal).

Dalam hal ini selayaknya saudara-saudara Sunni juga belajar untuk tidak menggeneralisir Syi'ah melalui kelakuan para ekstrimisnya yang ghulat, seperti Yassir al Habib dan Syaikh M Tawhidi yang di Iran sekalipun ceramah-ceramah mereka dicekal lantaran terlampau ekstrim dan seringkali menyerang simbol-simbol yang dihormati kaum Ahlusunnah (bahkan para ulama besar Syi'ah sendiri seperti Sayyid Ali Khamenei dan Sayyid Hasan Nasrullah pun tidak lepas dari serangan mereka).

Sayangnya oleh para Takfiri di kalangan Sunni, video-video pelaknatan, pencacian para sahabat dan istri Nabi serta aksi Tathbir (menyiksa diri hingga berdarah-darah di hari Asyura) yang biasa dilakukan para Syi'ah ekstrim tersebut di-blow up dan disebarkan secara masif ke segala penjuru sembari mereka katakan "Inilah Syi'ah". Padahal dua Marja' terbesar Syi'ah abad ini yang memiliki puluhan juta muqallid seperti Sayyid Ali Khamenei (Iran) dan Sayyid Ali Sistani (Iraq) sudah mengharamkan hal tersebut.

Satu hal yang harus diikuti yaitu fatwa Habib Ali al Jufri dimana beliau pernah berkata, "Jangan katakan seorang Sunni membunuh Syi'ah, jangan juga katakan seorang Syi'ah membunuh Sunni. Tapi katakan seorang Kriminal membunuh seorang manusia".

Beliau ini adalah seorang ulama besar Sunni moderat yang juga pernah berfatwa, "Musuh kalian yang sebenarnya adalah mereka yang berusaha meyakinkan bahwa kalian Sunni dan Syi'ah saling bermusuhan."

Dan dengan fatwa tersebut saya sangat paham siapakah yang dimaksud Habib Ali al Jufri sebagai "musuh kalian yang sebenarnya" tersebut, walaupun beliau tidak secara eksplisit menyebut nama suatu golongan.

Ada baiknya mulai sekarang kita belajar untuk tidak menggeneralisir sesuatu. Kelakuan ISIS yang (mengaku) Sunni tidak berhak mewakili Sunni dan menjadi gambaran wajah Sunni di mata muslim Syi'ah.

Begitu juga kaum Syi'ah ekstrim yang doyan berteriak melaknat simbol-simbol yang diagungkan kaum Sunni juga tidak layak menjadi representasi Syi'ah di mata kaum Sunni. Mereka hanya minoritas di mazhab masing-masing. Bisa disebut sebagai oknum yang gemar berpecah belah.

Bukankah anda tidak rela jika agama anda di-cap buruk sebagai teroris lantaran kelakuan ISIS dan Al-Qaeda? Lalu mengapa anda tidak mau bersikap adil dengan menerapkannya kepada agama atau mazhab orang lain?

Dalam Qur'an sendiri, dalam menyikapi orang-orang yang berbeda agama Allah telah memperkenalkan konsep 'kalimatun sawa'' yaitu 'the meeting point' atau poin pertemuan/kesamaan antara kita (muslim) dan mereka (non-muslim) demi pengembangan dialog dan paradigma dialog antar agama.

Lalu pertanyaannya, jika terhadap orang-orang yang berbeda agama saja Tuhan memperkenalkan konsep 'kalimatun sawa', lalu kenapa kita tidak menerapkannya terhadap saudara-saudara seagama yang sekedar berbeda mazhab?

Jika terhadap non-muslim konsep itu berlaku, kenapa terhadap sesama muslim tidak? Selama ini para takfiri justru sibuk mencari dan membesar-besarkan poin perpecah-belahan terhadap orang-orang yang berbeda mazhab darinya (apalagi yang berbeda agama).

Dialog-dialog antar mazhab Sunni-Syi'ah sudah sering dilakukan, baik di Universitas Al-Azhar Mesir dan di Konferensi-konferensi Islam di Iran, dan tak ada satupun yang berujung pada pengkafiran melainkan justru menghasilkan pendekatan (Taqrib) antar mazhab.

Bahkan dalam konferensi para ulama dunia di Amman Yordania sudah menghasilkan Deklarasi Amman yang menghasilkan point-point bahwa Ahlusunnah 4 Mazhab dan Syi'ah Imamiyah, Ismailiyah dan Zaidiyyah adalah saudara sesama muslim yang tidak halal untuk saling mengkafirkan apalagi menumpahkan darah satu sama lain.

Deklarasi ini sendiri sudah ditandatangani para ulama besar dunia seperti Habib Umar bin Hafidz, Habib Ali al Jufri, KH. Hasyim Muzadi, Sayyid Ali Khamenei, Sayyid Ali Sistani, Ayatullah Ali Tashkiri, Syaikh Yusuf Qorodhowi dan ratusan ulama besar Sunni-Syi'ah lainnya dari seluruh dunia.

Sayangnya masih banyak muslim awam kurang piknik di negeri ini yang tidak mengetahui hal ini. Bagaimana mungkin mereka tahu sedangkan media-media yang menguasai segala informasi tentang "Islam" di dunia maya justru dikuasai situs-situs Takfiri seperti Arrahmah dot com, voa-islam, eramuslim, panjimas, fimadani, nahimunkar, pkspiyungan dll yang mencuci otak kaum muslim awam untuk bersikap fanatik, takfiri dan intoleran.

Perlu diakui, kaum moderat di negeri ini kurang gerak dan kurang terorganisir sehingga suara mereka yang menyuarakan konsep Tuhan 'kalimatun sawa' dan toleransi itu justru kalah keras dan kalah populer.

Para penganut toleransi lebih banyak yang diam dalam melihat aksi-aksi takfirisme. Sehingga bisa dibilang toleransi orang-orang yang diam ini sudah sampai tahap 'kebablasan', dimana aksi diam mereka justru menunjukan bahwa mereka juga 'toleran' terhadap takfirisme.
Saya jadi teringat dengan sebuah pepatah (saya lupa asalnya dari mana) "Assakitu 'anil haqqi syaithonun akhros" >> Orang yang diam dari (menyuarakan) kebenaran adalah Setan yang bisu.

Mungkin sebaiknya para aktivis Anti-Takfirisme di negeri ini bersuara lebih lantang dalam menyuarakan sikapnya, mengorganisir gerakannya dan lebih keras dalam menunjukkan rasa tidak sukanya terhadap kaum intoleran. Karena pesan Sayyidina Ali Kw sangat jelas, "Kebenaran yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir."
Hari ini tidak perlu takut mendapat julukan Liberal, Syi'ah, Kafir bla..bla..bla, karena menurut saya jika anda belum dijuluki begitu maka anda belum kaffah sebagai muslim moderat.

Tag: #islam moderat, #takfiri, #Sunni Syiah, #NUGL, #NU 

Terbaru

Seri Kekejaman ISIS

Video




VIDEO Terbaru

Random Post

Trending Topic

pks